Tak Langgeng, Ini 11 Alasan Perempuan Mangkir dari Pernikahannya
SerbaSerbi

Sepertiga perempuanlah yang meminta cerai, mengapa?

WowKeren - Membina bahtera keluarga memang tidak semudah yang dibayangkan. Awalnya mungkin nekat karena terbayang keluarga sebelah yang harmonis dan indah. Kamu siap, pasangan pun juga. Kalian berpikir kenapa tidak menikah.

Seiring berjalannya waktu, ternyata pernikahan pun kandas juga. Apalagi menurut National Center for Health, ketika sebuah pernikahan berakhir, kebanyakan sepertiganya adalah kaum wanita yang meminta cerai.

Salah satu terapis pernikahan asal Easton, Pennsylvania, Christine Wilke mengatakan komunikasi menjadi kunci penting sebuah pernikahan. Dikutip oleh HuffingtonPost pada Selasa (2/8/16), dia menambahkan perceraikan terjadi karena banyak perempuan merasa tidak dilihat, didengar dan dianggap dalam hubungan itu. Berikut 11 alasan lainnya:

  1. Kaum Hawa Merasa paling Bertanggung Jawab atas Hubungan Mereka
  2. Membina hubungan suami istri merupakan tanggung jawab bersama. Apalagi kalau keduannya merupakan pekerja keras. Untuk itulah dibutuhkan perhatian, usaha, niat dan komunikasi yang kuat. Konflik terasa ketika di rumah. Sepulang dari kantor dan pekerjaan rumah dikerjakan sendiri oleh sang istri. Biasanya perempuan bakal senewen dan mulai berpikir, kemana pasangan mereka.

  3. Saling Keras Kepala
  4. Sebelum melangkah ke perceraian yang sesungguhnya, para terapis selalu menanyakan apa permasalahan berat yang dialami. Kebanyakan mereka menjawab bahwa mereka memiliki argumen yang sama. Ketika kebutuhan keduanya tidak terpenuhi, maka yang muncul adalah dendam. Misalnya, si perempuan mulai sering mengeluh pria tidak pernah mendengar keluh kesahnya.

  5. Tidak Puas dengan Kehidupan Seks
  6. Bagi kebanyakan pasangan, seks adalah barometer untuk kehidupan pernikahan. Ketika perempuan mengeluh tentang kehidupan seks, biasanya ada masalah yang lebih besar di luar ranjang.

  7. Tidak Ada Emosi seperti Dahulu
  8. Alasan ini sering menjadikan perempuan ingin bercerai dengan pasangannya. Mereka bercerita tidak ada emosi ketika berbicara dan tidak lagi antusias menanggapi pasangan. Hal ini kerap membuat perempuan berpaling dan mencari laki-laki lain.

  9. Sudah Bosan dengan Pasangan
  10. Bertahun-tahun dengan pasangan yang model seperti itu saja, kadang memang membuat bosan. Biasanya, anak-anak sudah mulai besar dan mereka tidak lagi hidup bersama ayah-ibu. Perempuan kerap merasa pola hidup yang monoton.


  11. Tidak Tahan Marah Berkepanjangan
  12. Dendam dan marah yang menumpuk akan berimbas pada konflik yang besar. Awalnya, perempuan bisa bertahan dan mengucap dalam hati bahwa ini adalah bumbu pernikahan. Akan ada naik-turun. Namun, jika hal ini terus menerus terjadi, perempuan akan muntap. Mereka menyadari bahwa hidup tidak hanya untuk ketegangan dan kekecewaan.

  13. Dijodohkan dengan Laki-Laki Pilihan Orang Tua
  14. Kadang perpisahan terjadi bukan disebabkan oleh kesalahan pihak pria. Di kala pernikahan masih muda dan sudah goncang, kadang akan ada intervensi dari orangtua pihak perempuan. Mereka menjodohkan putrinya dengan laki-laki lain yang menurut mereka lebih baik. Jadi jangan heran, memang masih ada beberapa wanita dengan karakter demikian, sebab mereka khawatir dianggap sebagai anak durhaka yang tidak tahu balas budi.

  15. Akhlak di Laki-Laki
  16. Memiliki pasangan yang tidak bermoral adalah dukacita bagi seorang perempuan. Bahkan, hal ini bisa menjadi aib besar untuk seluruh anggota keluarga. Tidak ada hal yang bisa dibanggakan dari karakter pria demikian. Oleh karena itu, bila laki-laki terasa berbeda dari ketika pacaran, perempuan berpikir untuk bercerai.

  17. Perempuan Lelah Berpura-Pura Dirinya Baik-Baik Saja
  18. Sering makan hati itu mungkin gambaran yang cocok bagi seorang perempuan yang dalam kehidupan percintaannya penuh dengan kepuraan-puraan. Dalam kehidupan pernikahan laki-laki memang bertugas menjadi kepala rumah tangga, tetapi kalau terlalu mengatur bahkan sampai tega melakukan kekerasan fisik, maka sekuat apa pun wanita lama-kelamaan pasti tidak akan tahan dan ingin segera meninggalkannya.

  19. Faktor Ekonomi
  20. Kadang perempuan mampu melihat dengan realita bahwa faktor ekonomi menjadi penentu utama kebahagiaan seseorang. Berdasarkan catatan dari Kementerian Agama pada tahun 2013, sekitar 60 persen angka perceraian yang terjadi di indonesia rata-rata diakibatkan oleh faktor ekonomi. Sisanya adalah akibat perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga.

  21. Pria yang Jarang Pulang atau Tidak terlibat dalam Urusan Keluarga
  22. Jika suami adalah satu-satunya sumber nafkah, dia mungkin percaya bahwa makin keras dan lama dia kerja, dia makin memperlihatkan dedikasi kepada keluarganya. Namun, jika dia bekerja sampai larut setiap hari dan melakukan banyak perjalanan, sang istri mungkin mulai bertanya-tanya apakah dia masih memperhatikannya atau tidak lagi. Kalau ada anak-anak yang terlibat dan suami tidak pernah ada di rumah, seorang istri mungkin akan menjadi stres.
Memang tidak ada pernikahan yang sempurna. Namun bila kehadiran laki-laki bisa membuat si perempuan merasa sempurna, kenapa tidak? Ingat komunikasi menjadi kunci utama sebuah pernikahan.

(wk/)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait