Pernah Jadi Gelandangan, Begini Kisah Pria Pendiri Rumah Makan Gratis di Bogor
Facebook
SerbaSerbi

Aditya memiliki prinsip bahwa membantu orang lain tidak harus menunggu kaya.

WowKeren - Mendirikan tempat makan untuk berjualan demi meraup keuntungan sudah biasa dilakukan. Namun, apa jadinya jika sebuah rumah makan sengaja didirikan justru untuk memberikan makanan secara gratis?

Itulah Rumah Makan Ciangsana yang ada di Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Didirikan sejak 2016, rumah makan ini cukup populer dan bahkan sudah banyak dimuat di media massa.


Adalah Aditya Prayoga, seorang pria yang memutuskan untuk mendirikan rumah makan gratis. Ia mengaku, hal itu dilakukannya dengan berbekal pada prinsip hidupnya untuk selalu membantu mereka yang membutuhkan.

"Berbekal prinsip hidup tersebut saya mendirikan rumah makan yang orientasinya bukan keuntungan," kata Aditya dilansir dari Republika pada Selasa (19/2). "Melainkan menolong orang lain yang membutuhkan makanan."

Menolong orang lain bisa dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu kaya. Itulah prinsip yang dipegang teguh oleh Aditya. Mungkin sebagian orang berpikir bahwa Aditya berasal dari keluarga yang kaya hingga mampu mendirikan rumah makan yang memberikan makanan secara cuma-cuma. Faktanya justru sebaliknya.

Aditya sendiri pernah hidup serba kekurangan. Pria kelahiran Palembang tersebut bahkan mengaku pernah menjadi gelandangan sehingga harus menginap di masjid. Kala itu dirinya baru datang ke Jakarta dari Palembang.

"Nekat datang ke Jakarta dari Palembang ," jelas Aditya. "Saya sempat jadi gelandangan sampai menginap di Masjid Istiqlal selama hampir sebulan."

Aditya mengatakan bahwa selama tinggal di masjid, ia bertemu dengan seorang ustaz. Ustaz tersebut berpesan padanya untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Ia pun mulai belajar ilmu agama dan terus mengingat pesan ustaz itu.

Aditya bercerita, suatu ketika ia bertemu dengan seorang nenek yang sakit. Berniat membantu, bapak satu anak itu sering mengantar makanan ke rumah nenek tersebut.

Sejak membantu nenek itu, ia merasa rezekinya semakin lancar. Hal ini membuatnya semakin antusias menolong. Tak hanya nenek itu, tapi juga orang jompo lainnya. "Maka saya teruskan membantu nenek itu, juga beberapa orang jompo lain," ungkap Aditya melanjutkan kisahnya.

Aditya merasa kewalahan jika harus mengantarkan makanan tersebut satu-persatu. Oleh sebab itu, ia dan istrinya memutuskan untuk menyediakan makanan di depan rumah mereka dengan harapan siapapun bisa datang mengambilnya.

Dari situ, banyak tukang sapu, tukang rongsokan, dan pemulung yang datang. Aditya mengaku bahwa dengan cara tersebut membuat dirinya bisa membantu lebih banyak orang.

"Saya juga merasa lebih banyak yang dapat dibantu dengan cara itu," tutur Aditya. "Karena di sana sering lewat tukang sapu, rongsokan dan pemulung."

Setelah pindah rumah ke Ciangsana, Aditya mendirikan rumah makan gratis yang lebih besar lagi. Dalam sehari, ia bisa menyediakan 300 porsi makanan. Ia sendiri bermata pencaharian sebagai penjual speaker berisi murottal Alquran serta bergelut di dunia bisnis parfum dan sabun.

You can share this post!

Related Posts
Loading...