Ahok Blak-Blakan Soal Mafia Migas, Ungkap Fakta Mengejutkan Ini
Nasional
Ahok Jadi Bos BUMN

Presiden Joko Widodo kerap mengancam para mafia migas yang dinilainya masih berani 'berpesta pora' kendati telah dibidik oleh pemerintah. Ahok pun membeberkan fakta soal mafia tersebut.

WowKeren - Kiprah Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok barangkali menjadi salah satu kinerja pejabat yang paling diantisipasi publik. Pasalnya penunjukan Ahok sebagai Komut Pertamina dahulu pun diwarnai dengan sejumlah kontroversi hingga keraguan beberapa pihak.

Alasan penunjukan Ahok sebagai Komut Pertamina pun masih menjadi misteri. Namun beredar dugaan bahwa Ahok ditunjuk menjadi pengawas Pertamina demi memberantas mafia minyak dan gas yang merugikan neraca Indonesia.


Kendati tugas ini tak pernah dibenarkan, rupanya sang Komut sudah "bekerja di balik layar". Hal ini terbukti dari pernyataan terbaru Ahok soal mafia migas.

Menurut mantan Gubernur DKI Jakarta itu, mafia migas yang kerap disebut oleh Presiden Joko Widodo memang masih ada hingga kini. Ia lantas meneruskan pernyataannya dengan ungkapan fakta mengejutkan terkait mafia migas tersebut. Apa itu?

"Mafia iya, orang dalam dan ngajak orang luar," kata Ahok, merujuk pada sosok mafia migas yang tak lain adalah sosok internal di bidang tersebut. "Tujuannya impor dan komisi, hulu sampai hilir biayanya tinggi."

Sebagai informasi, mafia migas ini ternyata bisa mengeruk keuntungan hingga Rp1 triliun dalam sebulan hanya dari praktik kotornya. Pasalnya para mafia migas ini mematok keuntungan sebesar USD2-3 per barel per hari, dengan nilai impor Indonesia yang mencapai 800 barel setiap harinya.

Lebih lanjut, Ahok menyebut impor minyak lewat oknum ini tidak efisien karena kontrak impor dilakukan tak langsung kepada produsen. Kontraknya juga jangka pendek, yakni hanya 3-6 bulan. "Mayoritas dari Singapura yang masuk," kata Ahok, dilansir dari CNBC Indonesia.

Pemberantasan mafia migas menjadi kunci untuk efisiensi transaksi. Efisiensi ini nantinya juga berbuntut pada berkurangnya defisit neraca transaksi Indonesia yang selama ini masih lebih besar impor daripada ekspor.

Berbagai langkah pun akan ditempuh. Salah satunya, seperti disampaikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir, adalah dengan membeli minyak mentah langsung ke pemasok tanpa perantara atau trader.

"Kita sudah mulai (pakai sistem) tender," tutur Erick di Tangerang, Minggu (5/1). "Bukan melalui trader, tapi langsung kepada perusahaan yang menghasilkan minyak."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts