Otoritas berwenang mencatat sebanyak 73 pasien harus meregang nyawa akibat infeksi virus Corona pada Rabu (5/2) kemarin. Angka ini memecahkan rekor kematian per hari yang dilansir pihak berwenang.
- Elvariza Opita
- Kamis, 06 Februari 2020 - 12:54 WIB
WowKeren - Wabah virus novel Corona (n-Cov) yang merebak di berbagai penjuru dunia terus menyita perhatian banyak pihak. Apalagi sudah lebih dari sebulan berlalu sejak wabah ini pertama kali merebak, namun vaksin atau obat-obatan untuk menanggulangi penyakitnya tak kunjung ditemukan.
Alhasil tim medis hanya bisa bergantung pada metode pengobatan dari penyakit-penyakit serupa seperti flu maupun pneumonia. Namun ada pula beberapa metode pengobatan "tak lazim" yang dikembangkan sembari menanti peneliti berhasil menemukan vaksin untuk virus ini.
Vaksin yang tak kunjung ditemukan pun menjadi alasan utama mengapa wabah virus ini begitu cepat merenggut nyawa pengidapnya. Dilansir dari situs yang mengabarkan perkembangan terkini wabah virus Corona, worldometers.info, tercatat patogen mematikan ini telah menginfeksi sebanyak 28.276 pasien di seluruh dunia per Kamis (6/2) pukul 09.45 WIB.
Dari 28 ribu kasus itu, sebanyak 14 persen diantaranya atau sekitar hampir empat ribu pasien dalam kondisi kritis. Angka ini lebih besar daripada update sebelumnya, yakni sekitar 13 persen pasien dalam kondisi kritis.
Dari 28 ribu kasus itu, sebanyak 565 diantaranya dinyatakan meninggal dunia. Yang lebih menyita perhatian, untuk hari Rabu (5/2) kemarin saja, total ada 73 orang yang meregang nyawa akibat infeksi virus ini.
Namun demikian, sebanyak 1.173 pasien diklaim sudah bebas dari virus Corona tersebut. Angka ini juga meningkat bila dibandingkan dengan update sebelumnya yang mengklaim sekitar 900 pasien pengidap virus Corona berhasil sembuh.
Sementara itu "angin segar" mengenai virus mematikan ini sempat berembus pada Kamis (6/2). Pasalnya sekelompok peneliti dari Sekolah Kedokteran Yong Loo Lin National University of Singapore, Jyoti Somani dan Paul Tambyah, memprediksi bahwa wabah virus ini akan berakhir menjelang masuknya musim panas di Tiongkok.
"Teori menyebut wabah virus Corona memiliki pola musiman yang sama dengan influenza dan SARS. Namun menjelang musim panas, virus-virus itu diketahui menurun jumlahnya, tepatnya pada bulan Mei ketika suhu di Tiongkok mulai memanas," demikian kutipan pernyataan dari para peneliti tersebut.
(wk/elva)