Kisah Garda Terdepan Lawan Corona, Jauh Dari Keluarga Sampai Dibungkus APD 10 Jam Nonstop
SerbaSerbi
COVID-19 di Indonesia

Tenaga medis menjadi ujung tombak perlawanan terhadap pandemi virus Corona. Dan di tengah wabah itu, banyak kisah 'behind the scene' yang menarik untuk disimak.

WowKeren - Tenaga medis jelas menjadi pahlawan di tengah wabah virus Corona. Tak hanya di Indonesia, tenaga medis dari berbagai negara dibuat pontang-panting dengan terus meningkatnya jumlah kasus positif COVID-19.

Di Indonesia sendiri beberapa tenaga medis, baik dari perawat maupun dokter, memberikan kesaksian mereka selama bertugas sebagai garda terdepan. Berbagai rintangan jelas mewarnai pekerjaan mereka, mulai dari risiko terpapar yang begitu tinggi sampai alat kesehatan yang masih minim.


Namun situasi itu tak membuat para tenaga medis patah arang dalam memberikan pelayanan terbaik demi kesembuhan pasien. Walaupun diantara mereka ada yang harus rela berpisah dari anaknya yang masih perlu asupan ASI eksklusif hingga dibungkus alat pelindung diri (APD) selama berjam-jam tanpa makan, minum, dan istirahat.

Seperti misalnya Suster Afit yang bertugas di Wisma Atlet Kemayoran. Seperti diketahui, tenaag medis yang bekerja di RS darurat itu harus tinggal di tempat khusus dan jauh dari keluarga.

Padahal saat ini statusnya adalah sebagai ibu yang wajib memberikan ASI eksklusif bagi sang anak. Alhasil demi menekan rasa rindunya, Afit selalu membawa baju anaknya. Sedang untuk kebutuhan ASI-nya selalu berusaha ia penuhi.

"Alhamdulillah pagi ini sudah dapat susu (ASI) untuk anak saya di rumah, about sixty or something," tutur Afit, dilansir dari BBC Indonesia. "Yah, tidak apa namanya juga ibu pekerja, yang ibu-ibu karier di luar sana juga tahu kalau kita ada sedikit gangguan akan berpengaruh sama produksi ASI kita."

Afit mengaku mengumpulkan ASI-nya untuk kemudian "dijemput" sang suami. Ia pun hanya bisa berbicara dan bertatap muka dari kejauhan dengan suami, tanpa bisa berpelukan melepas rindu.

Hal berbeda disampaikan oleh Dokter Debryna yang bertugas di tempat yang sama. Salah satu hal yang begitu disorotinya adalah penggunaan APD selama 10 jam berturut-turut tanpa bisa istirahat makan dan minum. Bahkan untuk buang air kecil saja para tenaga medis ber-APD itu harus memakai popok dewasa.

Selain itu, ada ketakutan pula bila ada cacat minor di APD-nya. "Jadi benar-benar keep checking ke teman, jika ada yang sobek terus langsung diselotip," jelas Debryna.

Kendati demikian, masih ada satu hal yang bisa membuatnya tersenyum. Yakni tentang makanan darurat yang disumbangkan untuk para tenaga medis.

"Jadi masaknya di dalam kotak ini, ada nasinya juga. Terus ini rasa nasi sambel goreng daging, jadi di dalamnya ada dagingnya," terang Debryna sambil tersenyum lebar. "Enak kok, beneran enak, saya tidak bohong."

Perjuangan tenaga medis jelas tak bisa disepelekan di tengah pandemi yang ada. Namun kunci berhentinya wabah bukan hanya di tangan tenaga medis, tetapi juga di masyarakat awam. Caranya? Pastikan untuk selalu jaga kebersihan dan hindari keluar rumah kecuali dalam keadaan terdesak.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts