Tuai Kontroversi, Pria Asal Belanda Ciptakan Mesin 'Bunuh Diri'
SerbaSerbi

Philip Nitschke menuai kontroversi usai menciptakan 'Mesin Bunuh Diri' yang memudahkan manusia untuk "membunuh dirinya sendiri" secara cepat sejak beberapa tahun lalu.

WowKeren - Perkembangan teknologi yang kian maju semakin memudahkan kehidupan manusia. Sayangnya, tak semua kemajuan teknologi berdampak positif.

Salah satunya seperti teknologi satu ini yang justru menuai banyak kontroversi. Bagaimana tidak, teknologi ini memiliki tugas untuk memudahkan seorang manusia untuk "membunuh dirinya sendiri" secara cepat.

“Mesin Bunuh Diri” ini dipamerkan pada sebuah pameran pemakaman di Belanda beberapa tahun lalu. Philip Nitschke, pejuang eutanasia, menjadi kreatornya. Ia dibantu oleh seorang perancang asal Belanda, Alexander Bannink.

Rancangan tersebut kemudian diberi nama “Sarco” sebagai singkatan dari sarkofagus. Berbagai kontroversi pun dituai keduanya saat memamerkan mesin tersebut.

Desain dari alat ini sangatlah sederhana yaitu sebuah pod atau tabung yang berada di atas sebuah penyangga akan menjadi tempat terakhir manusia yang ingin mengakhiri hidupnya. Cara kerja mesin bunuh diri ini juga begitu mudah.


Mesin Bunuh Diri

Twitter/phillipnitschke

Mesin ini memiliki sebuah tombol, jika ditekan akan mengeluarkan gas nitrogen yang secara langsung membunuh orang di dalamnya. “Orang yang ingin mengakhiri hidupnya cukup menekan tombol dan kapsul yang ditempatinya akan diisi dengan nitrogen. Ia akan merasa sedikit pusing tetapi kemudian akan cepat kehilangan kesadaran dan mati,” kata Nitschke dilansir The Guardian.

Nitschke meyakinkan bahwa alat ciptaannya itu adalah sebuah teknologi “yang disediakan untuk orang-orang yang ingin mengakhiri hidupnya.” Dalam pameran di kota Amsterdam tersebut, Nitschke dan Bannink memberikan kesempatan kepada para pengunjung untuk merasakan sensasi menggunakan "mesin bunuh diri" ciptaannya menggunakan kacamata virtual reality.

Nitschke mengatakan ia bertujuan membangun pod yang berfungsi penuh secepatnya. Setelah itu, desain mesin ini akan ditempatkan secara online sebagai dokumen terbuka bagi orang-orang untuk mengunduhnya. “Itu berarti siapa saja yang ingin membangun mesin ini dapat mengunduh dan mencetak 3D perangkat mereka sendiri,” kata Nitschke.

Terkait kontroversi yang muncul seputar eutanasia dan rintangan hukum, Nitschke percaya bahwa memilih untuk mati adalah hak asasi manusia. “Saya percaya itu adalah hak asasi manusia yang fundamental untuk memilih kapan harus mati. Ini bukan hanya beberapa hak istimewa medis untuk orang yang sangat sakit,” ungkapnya.

"Jika Anda memiliki karunia hidup yang berharga, Anda harus dapat memberikan hadiah itu pada saat Anda memutuskannya," tutupnya.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts