Resesi Hantui RI, Segera Lakukan Hal-Hal Ini Agar Bisa Bertahan Hadapi Krisis Ekonomi
Lifestyle
Potensi Resesi Imbas COVID-19

Indonesia sedang dihantui dengan ancaman resesi. Masyarakat diminta segera lakukan-hal-hal ini agar bisa bertahan dalam hadapi krisis ekonomi selama pandemi corona. Apa saja?

WowKeren - Pandemi virus corona telah menyebabkan sejumlah negara mengalami resesi setelah pertumbuhan ekonomi minus dua kuartal berturut-turut. Salah satunya adalah Indonesia yang sedang dihadapkan dengan potensi resesi setelah pertumbuhan ekonomi pada Kuartal II 2020 ini mengalami kontraksi hingga 5,32 persen.

Kontraksi tersebut lebih besar dari prediksi pemerintah dan Bank Indonesia yang sempat meramalkan hanya di kisaran 4,3 hingga 4,8 persen. Meski demikian, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengungkapkan Indonesia masih belum mengalami resesi lantaran minus baru terjadi di satu kuartal.

Namun, jika pada kuartal III 2020 nanti ekonomi Indonesia kembali minus, maka Tanah Air resmi mengikuti jejak negara-negara lainnya yang sudah masuk jurang resesi. Diantaranya Amerika Serikat (AS), Singapura, Filipina, hingga Uni Eropa.

Masyarakat lantas diminta untuk bersiap menghadapi yang terburuk. Hal ini bisa dilakukan dengan mulai menyiapkan dana cadangan agar dapat bertahan melewati dampak resesi jika menghantam Indonesia.

Perencana Keuangan Zelts Consulting, Ahmad Gozali menjelaskan masyarakat dapat mulai menyimpan cadangan uang yang bisa menanggung biaya hidup. Ahmad menyarankan setidaknya tabungan yang disiapkan berjumlah pengeluaran selama 3 hingga 12 bulan.

Dana Cadangan

Berbagai Sumber

”Dana likuid ini untuk cadangan pengeluaran jika terjadi masalah dengan penghasilan,” saran Ahmad seperti dilansir dari Detik, Kamis (6/8). “Saya sarankan agar tiap keluarga punya dana cadangan setara dengan 3 sampai 12 kali pengeluaran bulanan. Sebab, lapangan kerja akan semakin sulit mengingat aktivitas ekonomi menurun.”

Ahmad mencontohkan jika pengeluaran bulanan 1 keluarga adalah sebesar Rp5 juta, maka jumlah tersebut dapat dikali 12 bulan. Dengan begitu, setiap keluarga minimal harus punya dana cadangan sebesar Rp60 juta untuk bertahan hidup sampai 1 tahun kemudian.


Tujuannya tentu untuk jaga-jaga apabila terjadi badai PHK atau pemotongan gaji mendadak di tengah situasi yang tidak pasti ini. Namun, jika belum memiliki dana cadangan sebesar 12 bulan pengeluaran, diupayakan terus menyisihkan 10-20 persen gaji ke dalam dana cadangan tersebut sampai jumlah yang ditakar mencapai targetnya.

PHK

Berbagai Sumber

“Dana cadangan bentuknya cash, tabungan, deposito, emas. Jika saldonya sudah dalam batas aman 3-12 bulan pengeluaran, berarti sudah aman, tidak perlu ditambah,” jelas Ahmad. “Jika kurang dari itu, maka diisi dengan setoran dari penghasilan (bisa 10 sampai 20 persen) atau mengubah dari aset investasi lain ke dalam bentuk yang likuid tadi.”

Hal serupa juga diungkapkan oleh Direktur Riset Centre of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah. Ia mengingatkan masyarakat untuk berjaga-jaga dalam mengelola keuangan secara bijak agar tidak bisa bertahan dari ancaman resesi yang semakin nyata.

Pasalnya, pandemi virus corona masih belum dapat diprediksi kapan akan berakhir. Hal ini menyebabkan kontraksi ekonomi masih berpotensi terus terjadi dan bahkan dapat bertambah parah.

”Tidak boros, memanfaatkan penghasilan secara bijak, usahakan terus menabung untuk bisa digunakan ketika diperlukan,” papar Piter seperti dilansir dari Kompas. “Kita tidak bisa memastikan kapan wabah berakhir, selama masih ada wabah kontraksi ekonomi atau resesi akan terus terjadi, yang artinya gelombang PHK masih akan berlangsung.”

Uang Cash

Berbagai Sumber

Sementara itu, Perencana Keuangan Andi Nugroho justru menyebutkan pentingnya masyarakat untuk menyimpan dana cadangan dalam bentuk uang cash. Menurutnya, memegang uang cash selama resesi terjadi begitu penting karena dapat menjadi modal ketika situasi sulit menerpa. Sebagai contoh jika terjadi PHK)pada perusahaan tempat bekerja.

Terakhir, Andi juga meminta masyarakat dapat mengerem pengeluaran yang sifatnya untuk memenuhi gaya hidup terlebih dahulu. Di masa-masa ini, masyarakat diminta agar bisa fokus mengelola keuangan dengan melakukan pengeluaran yang dinilai penting saja.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts