Dihantam Gelombang II COVID-19, Inggris Kembali Terapkan Lockdown 1 Bulan
Dunia
Pandemi Virus Corona

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengumumkan bahwa Inggris akan kembali melakukan penguncian wilayah (lockdown) selama 1 bulan mendatang, mulai tanggal 5 November mendatang.

WowKeren - Inggris kembali mengumumkan untuk melakukan penguncian wilayah (lockdown) lagi. Keputusan tersebut diambil usai terjadi kenaikan kasus COVID-19 di Inggris beberapa waktu terakhir.

Lockdown kali ini bakal diterapkan selama 1 bulan penuh. "Sekarang saatnya untuk mengambil tindakan karena tidak ada alternatif lain," Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dalam pengumumannya, Minggu (1/11).

"Kita harus rendah hati dalam menghadapi alam. Sayangnya, di negara ini, seperti di sebagian besar Eropa, virus menyebar lebih cepat daripada skenario kasus terburuk yang masuk akal dari para penasihat ilmiah kita," lanjutnya. Lockdown tersebut akan berlangsung mulai 5 November hingga 2 Desember.

Warga Inggris diwajibkan untuk tinggal di rumah kecuali untuk bekerja, pendidikan, dan olahraga. Hanya toko-toko penting yang buka.


Sayangnya, keputusan lockdown yang diterapkan Inggris ini membuat warga khawatir soal dampak ekonomi. "Kota ini akan bangkrut, tidak akan ada yang tersisa darinya," kata Roger Stenson, seorang pensiunan berusia 73 tahun di kota Nottingham, menggemakan keprihatinan luas atas dampak jangka panjang dari penutupan lainnya. "Saya khawatir anak muda, seperti cucu dan cicit saya sendiri, mereka akan menderita."

Michael Kill, CEO Asosiasi Industri Waktu Malam, yang melakukan lobi untuk sektor hiburan dan perhotelan, mengatakan penutupan baru akan membuat bisnis menghadapi "Armageddon keuangan".

Sebelumnya, Pemerintah Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara telah melakukan lockdown parsial. Langkah serupa sebelumnya dilakukan Prancis, Jerman, dan Austria di pekan kemarin. Portugal pada Sabtu lalu, membatasi 70% aktivitas warganya sedangkan Yunani melakukan penguncian parsial.

Eropa sangat ingin membendung lonjakan infeksi yang mengkhawatirkan di benua yang telah mencatat lebih dari 279.000 kematian sejak virus pertama kali muncul di Tiongkok akhir 2019 lalu. Pemberlakuan lockdown ini diperkirakan akan membuat negara-negara di benua Eropa jatuh ke jurang resesi yang dalam.

"Semakin gelap ... Angka pemulihan sudah berakhir," kata ekonom ING, Charlotte de Montpellier, dilansir dari CNN. "Gelobang kedua pembatasan virus corona mendorong ... double dip recession," kata Ekonom Eropa di Capital Economics Andrew Kenningham.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts