Kunjungan Bersejarah Paus Fransiskus ke Irak Tuai Kekhawatiran Gara-Gara Ini
Instagram/franciscus
Dunia

Paus Fransiskus sendiri telah menerima vaksinasi COVID-19 pada pertengahan Januari 2021 lalu. Rombongan Paus yang berkunjung ke Irak juga dilaporkan telah mendapatkan vaksinasi.

WowKeren - Paus Fransiskus menjadi pemimpin Gereja Katolik pertama yang berkunjung ke Irak. Lawatan bersejarah tersebut merupakan kunjungan internasional pertama yang dilakukan Paus Fransiskus sejak awal pandemi virus corona (COVID-19).

Paus Fransiskus mendarat di Ibu Kota Irak, Baghdad, pada Jumat (5/3) waktu setempat. Setibanya di bandara, Paus Fransiskus disambut oleh karpet merah dan band militer. Ia kemudian langsung mengunjungi Istana Kepresidenan Irak.

Namun demikian, kunjungan Paus Fransiskus ini dilakukan di tengah lonjakan kasus COVID-19 di Irak. Kekhawatiran pun timbul jika kunjungan ini justru berpotensi menimbulkan penularan virus yang luas.

Andrea Vicini yang merupakan seorang dokter medis, profesor teologi moral di Boston College, sekaligus Pastor Jesuit mengagumi kesediaan sang Paus untuk menempatkan dirinya secara langsung dalam mempromosikan dialog dengan Islam dan melindungi kalangan yang teraniaya. Menurut Vicini, Paus Fransiskus setia kepada formasi Jesuitnya dengan melakukan perjalanan ke perbatasan iman tersebut.

"Dia (Paus Fransiskus) ingin menunjukkan bahwa dia siap mengambil risiko," tutur Pastor Vicini dikutip dari The New York Times. "Masalahnya adalah orang lain juga akan menghadapi risiko."


Paus Fransiskus sendiri telah menerima vaksinasi COVID-19 pada pertengahan Januari 2021 lalu. Rombongan Paus yang berkunjung ke Irak juga dilaporkan telah mendapatkan vaksinasi.

Namun Paus Fransiskus merencanakan menggelar misa dengan ribuan orang di stadion sepak bola di kota Kurdi, Erbil, pada Minggu (7/3). Selain itu, rencana kunjungan Paus Fransiskus ke Qaraqosh, sebuah kota Katolik Suriah, di Dataran Niniwe utara juga dinilai berpotensi menimbulkan kerumunan massa.

"Akan ada banyak orang," ujar Karam Qasha, seorang Pastor Katolik di Irak Utara yang telah mendaftarkan diri sebagai peserta misa Paus Fransiskus di Erbil. "Setiap hari seseorang akan meneleponku dan bertanya, 'Pastor, aku juga bermimpi untuk bertemu Paus, bisakah Anda memasukkan saya ke daftar yang akan pergi (mengikuti misa)?'"

Sementara itu, profesor etika dan bioetika di Gregorian Pontifical University di Roma, Paolo Benanti, menyatakan bahwa bahaya perjalanan Paus selama pandemi harus diukur terhadap kemungkinan meningkatkan situasi keamanan bagi umat Kristiani dan warga Irak lainnya secara signifikan di lapangan. Menurut Benanti, Paus perlu menyeimbangkan efek bagi umat Kristen karena gagal berkunjung dan menyoroti penderitaan mereka terhadap “bahaya kasus COVID-19 yang menyebar dari perjalanan semacam ini".

Sebelumnya, Benediktus XVI yang merupakan pendahulu Paus Fransiskus juga sempat menyuarakan kekhawatiran atas kunjungan ke Irak ini. Kepada media Italia Corriere della Sera, Benediktus menyebut kunjungan tersebut penting namun "berbahaya" karena situasi keamanan di Timur Tengah dan juga pandemi corona.

"Masa ini tengah sulit. Menjadikannya kunjungan yang berbahaya," kata Benediktus. "Belum lagi situasi di Irak yang tengah tidak stabil. Jadi, saya akan menemani Fransiskus dengan doa saya."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts