Pasien COVID-19 dengan Komorbid dan Lansia Boleh Terima Vaksin AstraZeneca? Begini Kata WHO
Twitter/KemenkesRI
Health
Vaksin COVID-19

Sebanyak 1,1 juta dosis vaksin COVID-19 AstraZeneca tiba di Indonesia pada Senin (8/3). Namun bolehkah vaksin itu diberikan kepada pasien lansia dan komorbid?

WowKeren - Indonesia resmi kedatangan 1,1 juta dosis vaksin COVID-19 per Senin (8/3) kemarin. Perihal vaksin yang didatangkan dengan skema COVAX ini pun "diburu" masyarakat Indonesia, termasuk individu kategori apa saja yang bisa menerima vaksin AstraZeneca.

Dalam pedoman interim yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), disebutkan bahwa vaksin ini memiliki efikasi atau tingkat kemanjuran 63,09 persen terhadap gejala infeksi virus SARS-CoV-2. Diperlukan injeksi 2 dosis untuk mendapatkan perlindungan maksimal dengan jarak 4-12 pekan antar dosis.

Yang kemudian menarik perhatian, di pedoman tersebut diungkap vaksin AstraZeneca bisa digunakan untuk lansia di atas 65 tahun. Selain karena tak ada efek samping atau reaksi alergi yang ditunjukkan selama uji klinis, vaksin juga dilaporkan berhasil menginduksi antibodi terhadap COVID-19 sebaik yang timbul di kelompok usia lain.

"WHO merekomendasikan vaksin ini untuk penerima di atas 65 tahun," ujar WHO dalam panduan tersebut, dikutip pada Selasa (9/3). Sementara untuk pasien dengan komorbid juga.


"Uji klinis menunjukkan vaksin juga aman dan efektif terhadap pasien dengan kondisi medis tertentu, termasuk mereka yang semakin rentan terhadap gejala COVID-19 yang parah," tutur WHO. Penyakit komorbid yang diuji dengan vaksin ini meliputi obesitas, penyakit kardiovaskuler, penyakit pernapasan, dan diabetes.

Namun demikian, ada beberapa kelompok masyarakat yang sebaiknya tidak menerima vaksin ini. Seperti individu di bawah 18 tahun, ibu hamil, ibu menyusui, pasien HIV/AIDS, serta penderita dengan gangguan sistem imun dan autoimun.

AstraZeneca menjadi salah satu vaksin yang digunakan pemerintah Indonesia. Lantas bagaimana efektivitas vaksin ini, terutama untuk melawan Corona B117?

"Data dari uji coba kami terhadap vaksin ChAdOx1 di Inggris menunjukkan bahwa vaksin tersebut tidak hanya melindungi dari virus pandemi asli tetapi juga melindungi dari varian baru, B117," kata Direktur Grup Vaksin Oxford, Prof Andrew Pollard, seperti dirilis di Preprints with The Lancet yang akan melalui tinjauan sejawat. "Yang menyebabkan lonjakan penyakit di seluruh Inggris mulai akhir tahun 2020."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts