Australia Bantah Tudingan Rasisme Terkait Ancaman Hukuman Pendatang dari India di Tengah Pandemi
pixabay.com/Ilustrasi
Dunia
Pandemi Virus Corona

Para ahli medis dan kelompok hukum berpendapat langkah pemerintah untuk mengkriminalisasi kedatangan orang India itu ekstrem dan tidak proporsional dengan risiko kesehatan.

WowKeren - Langkah Australia yang mengancam untuk memenjarakan warga negara yang pulang dari India memicu kecaman. Negeri Kanguru tersebut dianggap rasis dan melanggar hak asasi manusia.

Namun tuduhan ini dengan segera dibantah oleh Perdana Menteri Scott Morrison. "Tuduhan yang sama dibuat terhadap pemerintah lebih dari setahun yang lalu ketika kami menutup perbatasan ke China daratan," katanya kepada stasiun radio Sydney 2GB.

Ia menegaskan keputusan itu sama sekali tak terkait dengan politik. "Tidak ada politik atau ideologi dalam pandemi. Ini tidak ada hubungannya dengan politik, ini adalah virus," tegasnya.

Diperkirakan ada 9.000 warga Australia di India, 600 di antaranya digolongkan rentan. Australia telah menerapkan strategi eliminasi COVID-19 yang sebagian dilakukan melalui kontrol perbatasan yang ketat dan karantina wajib. Menteri Luar Negeri Marise Payne mengatakan kedatangan India menyumbang 57 persen dari kasus positif di karantina, naik dari 10 persen pada Maret.


Sedangkan ahli medis dan kelompok hukum berpendapat langkah pemerintah untuk mengkriminalisasi kedatangan orang India itu ekstrem dan tidak proporsional dengan risiko kesehatan. Senator Federal Partai Hijau Mehreen Faruqi menyebut bahwa tindakan tersebut "benar-benar mengerikan dan rasis".

Komentator media konservatif terkemuka Andrew Bolt mengatakan jika kebijakan itu sangat kejam dan tidak rasional. "Saya tidak percaya kami akan memberlakukan larangan perjalanan seperti itu pada orang kulit putih Australia yang pergi ke, seperti misalnya Inggris," ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Mantan Komisaris Diskriminasi Ras Australia Tim Soutphommasane. Larangan dan hukuman pidana tidak dikenakan pada warga Australia yang kembali dari negara lain.

"Kami tidak melihat perlakuan yang berbeda diperluas ke Amerika Serikat, Inggris, dan negara Eropa mana pun meskipun tingkat penularannya sangat tinggi dan bahaya kedatangan dari negara-negara itu sangat tinggi," katanya kepada Sydney Morning Herald. "Ada standar berbeda yang dimainkan di sini tergantung dari bagian dunia mana Anda berasal."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts