Virus COVID-19 Varian Delta Diperkirakan Bakal Dominan di Thailand
Unsplash/Yuzki Wang
Dunia
Pandemi Virus Corona

Varian Delta disebut dapat menjadi strain dominan di negara itu selama dua hingga tiga bulan ke depan mengingat jumlah infeksi dengan varian ini terus mengalami peningkatan.

WowKeren - Varian virus corona (COVID-19) varian Delta atau yang pertama kali diidentifikasi di India telah menyebar ke sejumlah negara. Salah satunya ke Thailand.

Bahkan varian ini diperkirakan akan cenderung menjadi yang dominan di negara itu. Hal tersebut sebagaimana diperkirakan oleh Departemen Ilmu Kedokteran (MSD) pada hari Rabu (16/6). Varian Delta disebut dapat menjadi strain dominan di negara itu selama dua hingga tiga bulan ke depan mengingat jumlah infeksi dengan varian ini terus mengalami peningkatan.

Peringatan tersebut dikeluarkan oleh Direktur Jenderal MSD Supakit Sirirak. Ia meminta masyarakat untuk mematuhi langkah-langkah pencegahan penyebaran penyakit COVID-19 dan mendapatkan vaksinasi secepat mungkin.

Berbicara dalam konferensi pers, Dr Supakit mengatakan MSD prihatin dengan peningkatan jumlah infeksi dengan varian Delta COVID-19. Dalam pekan ini saja ada lebih dari 137 pasien yang terinfeksi varian baru ini di sembilan provinsi lagi, kecuali di Selatan.

Sejak pengujian varian ini dimulai awal bulan ini, sebanyak 496 pasien COVID-19 dengan varian ini ditemukan di 20 provinsi. Selain Delta ada varian lain yang juga sudah menginfeksi negara ini.


Dr Supakit mengatakan varian Alpha dari COVID-19 yang pertama kali diidentifikasi di Inggris masih menjadi varian utama negara itu. Varian ini menyumbang 89,6 persen dari semua kasus infeksi.

"Kami melihat ada tanda peningkatan infeksi dengan varian baru (Delta) yang sekarang menjadi perhatian utama dunia," kata Supakit. "Karena tingkat infeksinya 40 persen lebih cepat, dibandingkan dengan varian Alpha."

Namun dibanding varian Alpha, Delta memiliki tingkat infeksi yang lebih cepat hingga 40 persen. "Hasil lab menunjukkan infeksi minggu ini naik hingga 9 persen, dibandingkan dengan 8 persen minggu lalu," tambahnya.

Untuk itu, ia mengatakan jika negara itu tengah fokus untuk mengamati perkembangan penularan varian ini. "Jadi, kita perlu mengikuti kasus (varian Delta) dengan cermat dan hati-hati," ujarnya.

Jika perlu pemerintah akan mengambil tindakan. "Jika jumlah infeksi terus tinggi, kita perlu mengambil tindakan terhadap kasus tersebut, termasuk kebijakan tentang rentang waktu untuk mendapatkan suntikan kedua," pungkasnya.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts