WHO Sebut Fiji Sebagai Negara Penyebaran COVID-19 Tertinggi, Rumah Sakit Alami Kekacauan
Dunia
Pandemi Virus Corona

WHO menyebut negara kepulauan yang terletak di Samudra Pasifik, Fiji merupakan salah satu negara dengan total kasus COVID-19 tertinggi di dunia. Kondisi di Fiji sendiri saat ini tengah berjuang melawan krisis COVID-19.

WowKeren - Angka COVID-19 di sejumlah negara dunia belakangan ini diketahui mengalami lonjakan. Salah satunya adalah Fiji. Fiji merupakan negara kepulauan di Selatan Samudra Pasifik.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa penyebaran COVID-19 di Fiji menjadi salah satu negara yang tertinggi di dunia. Dengan kasus lebih dari 200 orang meninggal, termasuk wanita hamil dan anak-anak. Kemudian sudah lebih dari 27 ribu kasus COVID-19 yang terkonfirmasi di Fiji sejak wabah dimulai pada April lalu, dengan total populasi 900 ribu jiwa.

Letak geografis Fiji yang dikelilingi oleh Samudra Pasifik, sering menghadirkan tantangan logistik besar, bahkan dalam kondisi normal. Terkait dengan keadaan krisis COVID-19 di Fiji, fasilitas medis terbesar di negara tersebut yakni Memorial Perang Kolonial (CWM) di Suva, mengalami kekurangan sumber daya atau tenaga medis.


Dalam beberapa bulan terakhir, kasus COVID-19 di Fiji terus mengalami peningkatan. Pemerintah pun diminta untuk menghentikan pengujian nasional terhadap masyarakat, sebab kapasitas fasilitas medis tidak memadai. Sementara untuk masyarakat yang merasa tidak enak badan, diminta untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Jika gejala dirasa semakin buruk, maka baru mencari bantuan medis di rumah sakit.

"Sangat menyedihkan melihat pemandangan di rumah sakit," tutur seorang warga Suva, Maryam Lockington kepada Al Jazeera. "Sangat asing dan tidak terbayangkan untuk mengharapkan rumah sakit dan area medis terlihat seperti yang mereka lakukan."

Kemudian, Maryam menceritakan apa yang telah dilihat dan dialaminya saat ibunya berada di rumah sakit menggunakan ventilator pada minggu ini usai kondisinya memburuk dengan cepat. "Ketika ibu saya sakit COVID-19, saya harus menghubungi teman dan keluarga untuk mencari kontak untuk transportasi karena kami tidak memiliki kendaraan pribadi dan tidak ada ambulans yang tersedia ketika kami menelepon," terangnya.

Selain itu, Maryam mengungkapkan pada saat itu juga tidak ada fasilitas kesehatan yang buka. "Sepertinya ricuh karena banyak pasien yang datang, anggota keluarga yang panik dan ada tenda dengan pasien," tandas Maryam.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts