Dilanda Krisis Bahan Bakar Hingga Internet, Jurnalis Di Lebanon Kesulitan Saat Liputan
EPA-EFE/Nabil Mounzer
Dunia

Saat ini, Lebanon tengah dihadapkan pada krisis bahan bakar, listrik, hingga internet. Hal ini tentunya menimbulkan banyak dampak bagi kehidupan masyarakat di sana.

WowKeren - Belakangan ini, Lebanon mengalami krisis bahan bakar, listrik, hingga internet. Hal ini memberikan dampak tersendiri bagi masyarakat, termasuk jurnalis.

Krisis bahan bakar yang terjadi di Lebanon ini diketahui semakin memburuk pada Juli lalu akibat pengurangan bertahap subsidi negara untuk impor. Selain jurnalis, hal ini juga berdampak pada rumah sakit, toko roti, dan sejumlah usaha yang harus tutup.

Selama terjadi krisis tersebut, warga Lebanon rela mengantre di pom bensin untuk mendapatkan solar dan mengisi tanki untuk pembangkit listrik swasta. Surat kabar, situs web, hingga stasiun TV dan radio mengerahkan segala upaya untuk tetap menjaga operasi berlangsung. Bahkan memungkinkan untuk mengirim para jurnalis ke lapangan.

Dalam mengakali agar bisa tetap melaksanakan liputan, setiap jadwal masing-masing jurnalis, telah dibekali bensin dalam menjalankan tugas di lapangan. Apabila memungkinkan, mereka juga diminta untuk bekerja dari rumah.


Selain itu, yang menjadi kekhawatiran utama para jurnalis adalah pasokan listrik. Pasalnya, perusahaan listrik negara Electricite du Liban hampir tidak mampu menyalakan listrik lebih dari 2 hingga 3 jam sehari dan bahan bakar diesel pun menjadi langka.

Nabi Ismail selaku Kepala Fotografer di surat kabar terkemuka yakni An Nahar dipaksa untuk membatasi liputan fotonya pada peristiwa yang paling penting. Ia pun sampai harus membujuk masyarakat yang ditemuinya untuk memberikan bahan bakar kepadanya agar bisa terus melaksanakan liputan di lapangan.

"Kami sangat terpengaruh oleh krisis bahan bakar, kami biasa berkeliling jalan sepanjang hari, namun sekarang tidak lagi," terang Ismail kepada UPI.

Paling parahnya lagi, hingga 60 persen jurnalis An Nahar, tidak bisa lagi bekerja di kantor mereka di pusat kota Beirut. Menurut Ismail, sebagian besar jurnalis tersebut bekerja dari rumah.

"Sebagian besar dari mereka sekarang bekerja dari rumah, karena tidak punya bensin untuk berangkat kerja," beber Ismail. "Cakupan foto kami turun hingga 50 persen, saya dan lima fotografer lainnya hanya meliput berita penting."

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts