Pulau-pulau Terpencil di Okinawa Miliki Tingkat Infeksi COVID-19 Tertinggi di Jepang
AFP/JIJI
Dunia
Pandemi Virus Corona

Okinawa memiliki tingkat infeksi terburuk dari 47 prefektur di Jepang. Pulau Miyakojima di Okinawa bahkan beberapa kali mencatat lebih dari 40 kasus COVID-19 hariani, meski populasinya hanya sekitar 55 ribu orang.

WowKeren - Meski lokasinya terisolasi, pulau-pulau terpencil di Prefektur Okinawa telah mencatat beberapa tingkat infeksi virus corona (COVID-19) tertinggi di Jepang. Karena penduduk bergantung pada pendapatan pariwisata dan kebutuhan sehari-hari yang dibawa dengan kapal, sulit untuk menghentikan pergerakan orang ke pulau-pulau tersebut.

Padahal, jumlah fasilitas perawatan medis yang tersedia juga terbatas. Lonjakan kasus COVID-19 pada bulan Agustus akhirnya membuat Kazuyuki Zakimi, Wali Kota Miyakojima di pulau bernama sama, untuk merilis permintaan darurat kepada penduduk luar daerah.

"Pulau ini telah menjadi daerah yang terinfeksi di tingkat terburuk dunia," tutur Zakimi pada 18 Agustus 2021 lalu. "Kata-kata saya mungkin terdengar kasar, tapi tolong jangan kunjungi pulau kami selama keadaan darurat."

Wisatawan yang datang diyakini telah menyebarkan virus ke penduduk di pulau Miyakojima. Virus kemudian diduga menyebar ke anggota keluar penduduk setempat.


Prefektur Okinawa memiliki tingkat infeksi terburuk dari 47 prefektur di Jepang. Di Kota Miyakojima sendiri, rasio infeksi selama seminggu lebih buruk, yakni mencapai lebih dari 400 kasus positif per 100 ribu orang.

Beberapa kali, pulau tersebut melaporkan lebih dari 40 kasus COVID-19 baru per hari, meski populasinya hanya sekitar 55 ribu orang. Namun kasus COVID-19 harian sudah turun hingga di bawah 10 pada akhir Agustus, menyusul permintaan pemerintah agar orang-orang tinggal di rumah dan mengambil tindakan anti-virus menyeluruh.

Tingkat infeksi tinggi juga terjadi di Desa Zamami yang mencakup sekitar 20 pulau, termasuk Zamamijima. Pada pertengahan Agustus, desa Zamami mengkonfirmasi 10 kasus baru COVID-19 selama seminggu, padahal populasinya hanya sekitar 940 jiwa. Apabila dikonversikan, tingkat infeksi di Desa Zamami mencapai lebih dari 1.000 per 100.000 orang.

Klinik di pulau itu bahkan terpaksa menangguhkan perawatan medis normal untuk menangani peningkatan pasien COVID-19. Jumlah penumpang di kapal yang membawa pasokan ke pulau itu dibatasi hingga 30 hingga 50 persen dari jumlah biasanya.

"Saya kembali memahami sepenuhnya kesulitan dalam menanggapi infeksi COVID-19 di pulau ini," ujar seorang pejabat desa.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts