Facebook Perluas Kebijakan Terkait Pelecehan Demi Lindungi Figur Publik
AFP/Josh Edelson
Dunia

Di bawah kebijakan yang baru ini, Facebook akan melarang konten yang merendahkan atau melecehkan figur publik, termasuk pejabat terpilih, selebriti, dan lainnya di mata publik.

WowKeren - Raksasa jejaring sosial Facebook mengatakan pada hari Rabu (13/10) bahwa perusahaannya akan memperluas kebijakan terkait pelecehan untuk menghapus lebih banyak konten berbahaya. Langkah ini diambil menyusul kesaksian kongres dari seorang pelapor yang menyebut raksasa media sosial itu tidak berbuat cukup untuk membendung konten berbahaya.

Kebijakan pelecehan ini akan memuat aturan yang lebih rinci. Di bawah kebijakan ini, Facebook akan melarang konten yang merendahkan atau melecehkan figur publik, termasuk pejabat terpilih, selebriti, dan lainnya. Selama ini Facebook memang sudah memiliki kebijakan serupa, namun aturan itu masih mencakup individu secara pribadi.

Perubahan lain akan menambah lebih banyak perlindungan terhadap pelecehan yang menimpa pembangkang pemerintah, jurnalis dan aktivis hak asasi manusia di seluruh dunia. Seperti diketahui di sejumlah negara, pelecehan media sosial telah digunakan dalam upaya untuk membungkam jurnalis dan aktivis.

Tak cukup sampai di situ, Facebook juga akan melarang semua pelecehan yang terkoordinasi. Pelecehan semacam ini terjadi ketika sekelompok individu bekerja sama untuk menggertak pengguna lain. Perubahan itu akan berlaku untuk semua pengguna.


Antigone Davis, kepala keamanan global Facebook, dalam sebuah posting blog mengatakan bahwa, "Kami tidak mengizinkan intimidasi dan pelecehan di platform kami, tetapi ketika itu terjadi, kami bertindak."

Perubahan tersebut muncul di tengah meningkatnya kritik terhadap bagaimana perusahaan menangani ujaran kebencian, informasi yang salah, dan konten negatif. Kekhawatiran tentang pelecehan berkisar dari remaja yang saling menindas di platform Instagram. Juga dilaporkan adanya pelecehan terkoordinasi terhadap jurnalis dan pembangkang oleh kelompok-kelompok yang terkait dengan pemerintah otoriter.

Pekan lalu, mantan ilmuwan data Facebook Frances Haugen mengatakan kepada Kongres bahwa perusahaan terlalu sedikit dalam bertindak untuk menunjukkan tanggung jawabnya dalam membendung konten berbahaya. Alih-alih memikirkan kebaikan pengguna, Facebook justru disebut terlalu memprioritaskan bagaimana agar bisa meraup keuntungan.

CEO Facebook Mark Zuckerberg buka suara menanggapi. "Argumen bahwa kami dengan sengaja mendorong konten yang membuat orang marah demi keuntungan sangat tidak masuk akal," tegasnya.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts