Menko Luhut Bongkar Modus Pelanggaran PeduliLindungi, Demi Kelabui Jumlah Pengunjung Restoran
maritim.go.id
Nasional
PPKM Darurat

Menko Marives Luhut Binsar Pandjaitan membuka modus pelanggaran pemakaian aplikasi PeduliLindungi, di mana dari sebuah rombongan hanya satu orang yang diminta melakukan scanning.

WowKeren - Penggunaan aplikasi PeduliLindungi saat ini begitu diperluas menyusul berbagai pelonggaran yang diterapkan. Diketahui setiap orang yang hendak mengakses fasilitas publik harus memindai aplikasi PeduliLindungi untuk memastikan statusnya, apakah hijau alias diperbolehkan masuk, atau merah dan harus diperiksa lebih lanjut.

Namun Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengungkap praktik pelanggaran penggunaan aplikasi tersebut. Bahkan Luhut sudah mengetahui modusnya, yang menurutnya dilakukan oleh pihak pengelola tempat wisata dan restoran.

Rupanya modus yang dimaksud adalah pengelola tempat publik hanya menyuruh perwakilan satu rombongan untuk check-in dengan PeduliLindungi. Hal ini dilakukan demi mengelabui jumlah pengunjung yang sebenarnya.

"Kami melakukan identifikasi di lapangan. Dan ditemukan hanya satu orang atau perwakilan dari kelompok yang diharuskan melakukan scanning QR Code agar kapasitas tempat wisata tidak cepat penuh," kata Luhut, dikutip dari Antara, Selasa (26/10). "Ini perlu diwaspadai, karena kita jangan bohongi diri kita sendiri."


Pelanggaran lain yang awam dijumpai, menurut Luhut, adalah soal penyesuaian level di sejumlah wilayah. Seperti bar dan klub malam yang beroperasi tanpa memerhatikan protokol kesehatan yang ada.

Kemudian pengelola bar dan klub malam itu melarang pengunjung untuk merekam situasi di dalam untuk meminimalisir kemungkinan terekspos di media. "Di Bali kelihatan banyak sekali. Saya mohon Pemda Bali juga perhatikan ini," imbuh Luhut.

Padahal, ditekankan kembali oleh Luhut, PeduliLindungi adalah salah satu alat untuk mengendalikan pandemi di tengah peningkatan mobilitas. Aplikasi ini pun harus terus masif dipromosikan serta digunakan. Pemakaiannya pun harus terus diawasi, agar tidak "kecolongan" dan berpotensi menimbulkan lonjakan kasus COVID-19.

"Kita masih bersyukur hari ini rata-rata di bawah seribu dalam seminggu terakhir ini. Tetapi kita ke depan harus terus hati-hati. Hal ini tentu saja melalui penerapan protokol kesehatan yang ketat, 3M dan 3T yang tinggi," pungkas Luhut.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts