Mahasiswi Adukan Kampus Cek Menstruasi Pakai Cotton Bud, Menteri Pendidikan Malaysia Angkat Bicara
pixabay.com/Ilustrasi/pisauikan
SerbaSerbi

Menteri Pendidikan Radzi Jidin berkunjung ke kampus tersebut untuk mendapatkan informasi lebih lanjut terkait dugaan pemeriksaan yang membuat mahasiswi tidak nyaman.

WowKeren - Sebuah perguruan tinggi di Setapak, Malaysia, diduga melakukan period spot check atau memeriksa status menstruasi mahasiswinya secara langsung. Hal itu diketahui dari cuitan salah satu pengguna Twitter @tashny (Tashny Sukumaran).

Menurut keterangan di profilnya, ia adalah seorang analis senior di sebuah think tank Malaysia, yang peduli dengan isu-isu seperti hukum hak asasi manusia, gender dan migrasi. Dia menerima pesan pelapor dari seseorang yang mengaku menghadiri ERT Vocational College di Setapak, Malaysia.

Dia mengklaim bahwa pada 18 Oktober, pelapor bersama sekitar 30 wanita muda lainnya yang berusia 18 hingga 19 tahun, "diikat" dan diberi cotton bud untuk "membuktikan bahwa mereka sedang menstruasi". Dalam cuitan itu, pelapor mengatakan kepadanya bahwa beberapa siswa telah menolak untuk diperiksa karena mereka tidak nyaman menjalani proses tersebut.

Mereka kemudian disuruh salat jika tidak nyaman diperiksa. Berdasarkan hukum Islam, wanita yang sedang haid boleh tidak melakukan shalat. Pelapor lebih lanjut mengklaim bahwa kampusnya telah melakukan praktik ini dalam waktu yang lama.


Memang praktik ini pernah disetop sebelumnya ketika viral secara nasional awal tahun ini, namun justru kembali dilakukan. Tak ayal, curhatan ini pun turut menarik perhatian dari Menteri Pendidikan Radzi Jidin.

Radzi kemudian berkunjung ke kampus tersebut untuk mendapatkan informasi lebih lanjut terkait dugaan pemeriksaan yang membuat mahasiswi tidak nyaman tersebut. Radzi mengatakan bahwa kementeriannya menganggap masalah ini serius dan menambahkan bahwa kementerian berkomitmen untuk mengakhiri praktik semacam itu.

Menanggapi hal ini, ia telah mendengar penjelasan dari para guru dan kepala sekolah serta umpan balik siswa. Ia mengatakan kementeriannya berkomitmen untuk menyediakan asrama dan lingkungan sekolah yang aman dan kondusif bagi mahasiswanya.

Sebelumnya pada April lalu, praktik semacam ini sempat menarik perhatian Malaysia ketika sejumlah wanita berbagi pengalaman mereka di media sosial. Komisi Hak Asasi Manusia Malaysia (Suhakam) menggambarkan praktik tersebut sebagai pelanggaran hak anak dan berpotensi mengandung unsur pelecehan.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts