Smelter Tambang Malah 'Banjir' Tenaga Kerja Asing, Menko Luhut Buka-Bukaan Alasannya
maritim.go.id
Nasional

Menko Marives Luhut BInsar Pandjaitan kerap mendengar kritikan soal lebih banyaknya tenaga kerja asing yang bekerja di industri pertambangan dan smelter Indonesia daripada pekerja lokal.

WowKeren - Indonesia kaya akan sumber daya pertambangan yang kemudian turut diolah di industri tambang serta smelter. Namun pembangunan proyek-proyek ini diklaim lebih banyak merekrut tenaga kerja asing ketimbang pekerja lokal.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa pemakaian TKA selama ini disesuaikan dengan kebutuhannya. Kebanyakan TKA asal Tiongkok tersebut hanya menempati sektor yang memang belum dikuasai oleh pekerja lokal.

Luhut menilai situasi ini adalah akibat kurangnya perhatian terhadap pendidikan vokasi di Indonesia, sehingga banyak tenaga lokal yang tidak bisa ditampung karena kurang terampil. "Memang banyak kritik, kenapa nggak pakai tenaga Indonesia? Kenapa nggak orang Indonesia aja semua? Ya memang tidak ada," kata Luhut dalam sebuah webinar pada Rabu (17/11).

"Karena kita berpuluh tahun nggak pernah perhatikan pembangunan politeknik yang ada di daerah," imbuh Luhut. "(Pemanfaatan tenaga kerja lokal) nggak sesederhana yang disampaikan di luar-luar itu."


Luhut lantas menceritakan situasi di Weda Bay misalnya. Untuk bisa mengoperasikan ruang kontrol, Luhut menyebut tidak ada tenaga kerja lokal yang memiliki keterampilan terkait.

"Kebanyakan dasar pendidikannya (tenaga kerja lokal) sejarah, hukum, perawat," terang Luhut. Karena itulah diperlukan pelatihan lebih lanjut untuk mereka bisa bekerja di smelter, sehingga selama waktu itu TKA akan digunakan untuk sementara waktu.

Pada prinsipnya, Luhut berharap ada transfer ilmu dan kemampuan antara TKA dengan pekerja lokal. Di sisi lain, beberapa pekerja lokal pun ada yang dikirim ke luar negeri, sebagai contoh Tiongkok, untuk dilatih sehingga saat kembali ke Tanah Air sudah memiliki kemampuan yang mumpuni.

"Teknologi ini anak muda kita kirim Tiongkok selama dua tahun, kita bicara metodologi, recycling, itu ada di Morowali. Tim saya akan ke sana besok melihat mereka apa yang didapat untuk jadi sebuah technology transfer," pungkas Luhut.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts