AS Jatuhi Sanksi Terhadap 5 Orang Korea Utara Atas Dugaan Pembelian Bahan Pembuatan Rudal
KCNA
Dunia

Amerika Serikat memberikan sanksi terhadap lima orang Warga Negara Korea Utara yang diduga membeli barang-barang untuk misil balistik. Seperti yang diketahui, Korut sedang mengembangkan rudal.

WowKeren - Pada Rabu (12/1), Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) menjatuhi hukuman atau sanksi terhadap lima orang Korea Utara lantaran diduga membeli barang-barang yang digunakan untuk misil balistik dan senjata program pemusnahan massal. Hal ini disampaikan oleh Wakil Menkeu untuk Terorisme dan Intelijen Keuangan, Brian E. Nelson.

"Tindakan hari ini, bagian dari upaya berkelanjutan Amerika Serikat untuk melawan program senjata pemusnah massal dan rudal balistik DPRK (Republik Rakyat Demokratik Korea), menargetkan penggunaan perwakilan luar negeri yang berkelanjutan untuk mendapatkan barang senjata secara ilegal," tutur Nelson dalam pernyataan, dikutip dari UPI, Kamis (13/1).

Lebih lanjut, Nelson mengatakan bahwa peluncuran rudal terbaru Korea Utara adalah bukti bahwa mereka terus memajukan program terlarang meskipun ada seruan dari komunitas internasional untuk diplomasi dan denuklirisasi. Adapun lima orang yang dijatuhi hukuman itu berbasis di Rusia dan Tiongkok.

Berdasarkan keterangan pers Departemen Keuangan AS, mereka di antaranya adalah Choe Myon Hyon yang diketahui berbasis di Vladivostok, Rusia, dikenai sanksi karena bekerja untuk pengadaan peralatan telekomunikasi dari Rusia untuk perusahaan Korea Utara. Choe sendiri bekerja sebagai Kepala Perwakilan dari organisasi yang berada di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Alam Kedua.



Masih melansir UPI, Departemen Keuangan AS dan Departemen Luar Negeri pun menunjuk SANS pada tahun 2010 sebagai terlibat dengan program senjata Korea Utara, membantu memperoleh komoditas dan teknologi untuk penelitian dan pengembangan pertahanan.

Sanksi tersebut tampaknya juga diberikan kepada empat perwakilan organisasi bawahan SANS yang berbasis di Tiongkok yakni Sim Kwang Sok diduga bekerja untuk pengadaan baja paduan. Kemudian Kim Song Hun, yang bekerja untuk memperoleh perangkat lunak dan bahan kimia.

Berikutnya Kang Chol Hak, yang bekerja untuk mendapatkan barang yang tidak ditentukan dari perusahaan Tiongkok. Terakhir, Pyon Kwang Chol, wakil-wakil dari sebuah perusahaan yang diyakini menjadi kedok untuk firma SANS lainnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Antony Blinken menuduh Korea Utara yang berbasis di Rusia, O Yong Ho telah bekerja setidaknya sejak 2016 dengan perusahaan Rusia Parsek LLC dan Direktur Pengembangannya, Roman Anatolyevich Alar, untuk pengadaan barang dengan aplikasi rudal balistik, seperti benang Kevlar , serat aramid, oli penerbangan, dan jutaan mesin presisi yang dikendalikan oleh Nuclear Suppliers Group.

(wk/tiar)


You can share this post!


Related Posts