Angka Vaksinasi COVID-19 di Kanada Meningkat Usai Pemerintah Usulkan Pajak Bagi yang Tak Disuntik
Dunia
Vaksin COVID-19

Di Quebec, Kanada, tampaknya masih banyak oknum yang enggan untuk melaksanakan vaksinasi COVID-19. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah lantas mengusulkan kebijakan pengenaan pajak kesehatan.

WowKeren - Setiap negara di dunia saat ini tengah melaksanakan vaksinasi COVID-19 untuk melawan pandemi. Meski demikian, tampaknya masih banyak oknum yang tidak percaya akan adanya COVID-19, sehingga menolak untuk melakukan vaksinasi, seperti yang terjadi di Quebec, Kanada.

Melihat banyak oknum yang enggan untuk melaksanakan vaksinasi COVID-19, maka pemerintah mengusulkan untuk mengenakan pajak terhadap mereka yang tidak divaksin. Strategi ini tampaknya menunjukkan keberhasilan.

Menteri Kesehatan (Menkes) Quebec, mengatakan bahwa provinsi Kanada telah melihat peningkatan vaksinasi COVID-19, setelah mengusulkan denda untuk individu yang tidak divaksinasi pada awal pekan ini. Dalam sebuah cuitan di Twitter pada Rabu (12/1) pagi, Menkes Christian Dube mengatakan bahwa provinsi tersebut mencatat 7 ribu janji dosis pertama yang baru dan memberikan 107 ribu dosis pada Selasa (11/1) ketika potensi hukuman finansial diumumkan.

Melansir UPI, Perdana Menteri (PM) Quebec, Francois Legault mengatakan bahwa provinsi tersebut akan mengenakan pajak kesehatan terhadap penduduk yang menolak untuk divaksinasi dosis pertama dalam beberapa minggu mendatang. Namun Legault tidak merinci dengan tepat kapan akan mulai berlaku dan seberapa besar denda yang diberikan.


Legault hanya memastikan bahwa biayanya akan menjadi "signifikan" dengan total lebih dari USD50 hingga USD100 atau sekitar Rp715 ribu-Rp1,4 juta. Selain itu pajak yang diusulkan juga tidak akan berlaku bagi mereka yang memiliki pengecualian medis untuk divaksin COVID-19.

Sejauh ini, Quebec telah melaporkan kematian akibat COVID-19 terbanyak dari provinsi mana pun di Kanada dengan lebih dari 120 ribu kasus. Selain itu, Provinsi juga telah memerintahkan untuk menutup dan menerapkan jam malam pukul 10 waktu setempat lantaran meningkatkanya kasus di tengah varian Omicron.

Lebih lanjut, Legault menambahkan bahwa 10 persen dari Quebec yang memenuhi syarat belum menerima setidaknya vaksin dosis pertama. Sementara itu, pasien COVID-19 yang dirawat secara intensif di rumah sakit, 50 persen di antaranya belum divaksinasi.

"Mereka yang menolak untuk mendapatkan dosis pertama dalam beberapa minggu mendatang harus membayar kontribusi kesehatan baru," papar Legault. "Mayoritas meminta agar ada konsekuensi. Ini masalah keadilan bagi 90% populasi yang telah berkorban. Kami berutang kepada mereka."

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts