Thailand Hadapi Masalah Kekurangan Tenaga Kerja Akibat Pandemi COVID-19
Pixabay/Quanlecntt2004
Dunia

Thaliand harus menghadapi masalah baru akibat pandemi COVID-19 yang terjadi 2 tahun ke belakang. Kini Thailand dihadapkan dengan kekurangan tenaga kerja usai banyak pekerja yang memilih keluar.

WowKeren - Pandemi COVID-19 selama 2 tahun terakhir memicu masalah baru di Thailand. Selain populasi yang menua dan tingkat kelahiran yang menurun, pandemi COVID-19 juga telah menciptakan kekurangan tenaga kerja di Thailand.

Pasalnya, selama dua tahun terakhir, warga Thailand mulai meninggalkan pekerjaan mereka dan menjadi pengangguran. Mereka kemudian memilih untuk bekerja sebagai pekerja lepas atau menjalankan bisnis mereka sendiri.

Meski begitu, Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional menyatakan bahwa jumlah tenaga kerja Thailand akan meningkat dari 43,2 juta pada tahun 2020 menjadi 36,5 juta pada tahun 2040. Rasio orang Thailand usia kerja dengan orang Thailand berusia 60 tahun ke atas diperkirakan akan menurun dari 3,6 pada tahun 2020 menjadi 1,8 pada tahun 2040.


Alasan penurunan tenaga kerja pun disebut bervariasi menurut industri. Di sektor pariwisata misalnya, seorang presiden hotel mengungkap bahwa penurunan terjadi karena banyak orang Thailand yang kini tidak ingin kembali bekerja di industri tersebut. Pasalnya, mereka menilai sektor pariwisata sebagai industri yang tidak aman. Penilaian itu tampaknya didapat setelah mereka menyaksikan sektor pariwisata lumpuh akibat pandemi COVID-19.

Sementara bagi para pekerja migran yang diberhentikan dari pekerjaan selama puncak pandemi tahun lalu, memilih untuk tidak kembali ke Thailand. Salah satu alasannya antara lain karena peningkatan pembatasan perbatasan.

Total Fertility Rate atau TFR di Thailand menunjukkan bahwa jumlah rata-rata anak yang lahir dari wanita selama hidup mereka, menurun secara dramatis. Pada tahun 2020, TFR Thailand turun menjadi di bawah 600.000 untuk pertama kalinya, sehingga TFR menjadi 1,51. Organisasi global mengkategorikan ini sebagai "extremely low".

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Bank Dunia menyatakan bahwa jika TFR suatu negara di bawah 2,1, beberapa masalah sosial akan terjadi. Ini termasuk peningkatan proporsi orang tua hingga masalah dengan pekerja migran. Para pejabat Thailand pun saat ini tengah menyerukan diadakannya program pelatihan untuk membantu para pekerja yang menganggur yang telah diberhentikan.

(wk/amel)


You can share this post!


Related Posts