Permintaan Buaya di Thailand Meningkat 2 Kali Lipat Akibat Kelangkaan Daging Babi
pixabay.com/Ilustrasi/miniformat65
Dunia

Fenomena ini terjadi di tengah semakin langkanya ketersediaan daging babi sementara itu di lain sisi harga daging buaya lebih murah dibanding ayam atau babi.

WowKeren - Jumlah konsumsi buaya semakin meningkat di Thailand. Setiap harinya, ada sekitar 20.000 buaya yang disembelih untuk diambil dagingnya, yang mana jumlah itu meningkat dua kali lipat.

Fenomena ini terjadi di tengah semakin langkanya ketersediaan daging babi. Tak pelak, tren ini memberi harapan bagi peternak buaya yang kehilangan bisnis karena pandemi, kata Yosapong Temsiripong, presiden Asosiasi Petani Buaya Thailand.

Akibat turunnya pariwisata secara besar-besaran, katanya, para petani kurang mampu menjual kulit buaya. Yosapong mengatakan, apakah jumlah tersebut akan bertahan atau tidak tergantung pada apakah orang yang mencoba daging buaya menikmatinya atau tidak.

Dia mengatakan jika harga daging buaya lebih murah dibanding ayam atau babi. Satu peternakan buaya membuat posting di Facebook minggu lalu yang menawarkan daging reptil dengan harga 70 baht per kilogram, yang mana itu jauh lebih murah dari daging babi yang berada di sekitar 200 baht per kilogram.



Sebelumnya, pihak berwenang membantah klaim bahwa kekurangan daging babi di negara itu disebabkan oleh wabah flu babi Afrika. Namun, satu kasus penyakit terdeteksi bulan ini di rumah jagal di Nakhon Pathom, lapor Bangkok Post, mengutip Departemen Pengembangan Peternakan Thailand.

Kendati demikian, pihak berwenang meminta warga untuk tetap tenang dan tidak panik. Mereka menekankan bahwa meskipun virus flu babi sangat menular dan mematikan namun itu tidak dapat ditularkan dari babi ke manusia.

Sejumlah pihak menilai jika pemerintah Thailand memang sengaja menutup-nutupi wabah flu babi Afrika hingga menyebabkan kurangnya pasokan dan pada akhirnya membuat harga daging binatang ini melambung tinggi.

Harga daging babi meroket, menyebabkan pedagang kaki lima menaikkan harga hidangan daging babi atau berhenti menyajikan daging babi sama sekali. Pemerintah bahkan memberlakukan larangan ekspor babi hidup selama tiga bulan untuk membantu mengendalikan harga daging babi.

(wk/zodi)


You can share this post!


Related Posts