Biaya Hidup Makin Mahal, Banyak Generasi Muda Tinggalkan Selandia Baru
Unsplash/Sulthan Auliya
Dunia

Selandia Baru menghadapi inflasi tinggi sebesar 6,9 persen. Harga perumahan yang tidak terjangkau serta biaya hidup yang mahal mendorong orang-orang pergi ke luar negeri.

WowKeren - Para pemuda di Selandia Baru berbondong-bondong pergi meninggalkan negara mereka ketika perbatasan kembali dibuka. Hal ini terjadi karena kondisi ekonomi semakin ketat di dalam negeri.

Banyak warga Selandia Baru, khususnya para profesional muda dan lulusan muda, pergi ke luar negeri. Beberapa dari mereka didorong oleh kondisi ekonomi yang sulit.

Selandia Baru menghadapi inflasi tinggi sebesar 6,9 persen. Harga perumahan yang tidak terjangkau serta biaya hidup lainnya yang mahal mendorong orang-orang untuk pergi ke luar negeri. Adapun biaya hidup yang tinggi termasuk sewa, suku bunga hipotek, dan bahan makanan semuanya meningkat.

Data terbaru dari Stats NZ menunjukkan bahwa antara Januari-Februari, migrasi bersih tahunan tercatat di angka negatif, dengan 7.300 lebih banyak orang pergi daripada masuk. Sedangkan di periode yang sama pada tahun 2020 ada rekor keuntungan bersih sebesar 91.700. Ekonom dan direktur utama Infometrics Brad Olsen mengatakan angka-angka terbaru menunjukkan betapa pentingnya perubahan dalam hasil migrasi Selandia Baru.



Menurut Stats NZ, kerugian itu didorong oleh orang dewasa muda, dengan peningkatan khusus pada warga Selandia Baru yang berusia 18 hingga 27 tahun yang pergi. Alhasil, hal ini dapat menimbulkan risiko kurangnya tenaga kerja.

"Kesulitan mencari pekerja sangat ekstrem di seluruh negeri, " kata Olsen. "Anda memiliki populasi usia kerja yang lebih kecil daripada tahun sebelumnya, pada saat semua orang mati-matian mencari pekerja. (Itu) benar-benar hanya memperburuk tekanan bisnis."

Pada bulan April, dokumen pemerintah memperkirakan bahwa 50.000 orang akan pergi selama tahun depan. Jumlah itu bisa membengkak menjadi 125.000 jika banyak anak muda yang menunda perjalanan pasca-kelulusan selama pandemi juga ikut pergi.

Sementara itu, Perdana Menteri Jacinda Ardern mengatakan bahwa perjalanan ke luar negeri adalah bagian dari sejarah. "Sudah menjadi bagian dari sejarah kami sebagai bangsa untuk sering melihat orang Selandia Baru datang dan pergi sebagai bagian dari pengalaman kami di luar negeri, membangun keterampilan dan bakat," ujarnya.

(wk/zodi)


You can share this post!


Related Posts