Prancis Alami Kekeringan 'Bersejarah', Pemerintah Didesak Ambil Langkah Tegas
Dunia
Waspada Suhu Panas

Meski rekor suhu panas telah mereda, namun dampaknya sendiri rupanya masih terasa. Di Prancis, usai dilanda gelombang panas ekstrem, kini disebut mengalami kekeringan 'bersejarah'.

WowKeren - Gelombang panas yang ekstrem diketahui melanda salah satu negara di Eropa yakni Prancis. Hal ini kemudian memicu kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat.

Melansir Al Jazeera, pemerintah Prancis diketahui telah mengaktifkan gugus tugas krisis untuk mengkoordinasi upaya dalam mengurangi dampak kekeringan "bersejarah" yang diperburuk oleh gelombang panas musim panas yang ekstrem.

Di samping itu, pihak berwenang juga telah memerintahkan pembatasan air di hampir semua dari 96 departemen daratan Prancis, dengan 62 di tingkat siaga tertinggi. Sementara badan cuaca Meteo France memperkirakan adanya sedikit bantuan untuk beberapa minggu mendatang karena suhu diperkirakan mencapai 40 derajat Celcius.

"Kekeringan ini adalah yang terburuk yang pernah tercatat di negara kita ... situasinya bisa bertahan selama dua minggu ke depan atau menjadi lebih buruk," ujar kantor Perdana Menteri Elisabeth Borne dalam sebuah pernyataan pada Jumat (5/8).


Menurut Meteo France, bulan Juli 2022 ditandai dengan rekor defisit curah hujan di Prancis dengan hujan kurang dari empat hari, yaitu sekitar tiga hingga 10 hari lebih sedikit dari rata-rata. Dengan adanya kekeringan tersebut, telah mendorong beberapa negara Eropa selatan untuk memberlakukan pembatasan air.

Berdasarkan laporan baru-baru ini dari Komisi Eropa mengatakan bahwa hampir setengah dari Uni Eropa terkena tingkat peringatan kekeringan. Sementara di tempat lain, rekor suhu musim panas yang tinggi dan cuaca kering yang berkepanjangan di Inggris menyebabkan masalah tingkat krisis bagi beberapa petani.

Di sisi lain, pemerintah Inggris sejauh ini diketahui berhenti mengumumkan kekeringan resmi, tetapi panas dan kurangnya curah hujan telah membebani sektor pertanian. Masih melansir Al Jazeera, irigasi yang dibutuhkan untuk mempertahankan lahan pertanian belum pernah terjadi sebelumnya, dengan petani kehabisan air untuk tanaman mereka.

Bahkan, Kepala Badan Lingkungan Inggris juga telah memperingatkan kesenjangan antara meningkatnya permintaan dan berkurangnya ketersediaan akan ditutup. Situasi ini pun digambarkan sebagai "rahang kematian".

Meski rekor gelombang panas bulan Juli saat ini telah mereda, namun prognosis jangka panjangnya disebut masih mengkhawatirkan. Berdasarkan data resmi, memproyeksikan bahwa pada tahun 2050, beberapa sungai paling rentan di Inggris dapat memiliki air hingga 80 persen lebih sedikit, dan suhu musim panas mungkin lebih dari tujuh derajat lebih panas dari sekarang.

(wk/tiar)


You can share this post!

Related Posts