Serangan Bom dan Pembakaran Guncang Thailand
pixabay.com/Ilustrasi/Liemedia
Dunia

Selama beberapa dekade, provinsi-provinsi yang ada di bagian selatan yang terletak di sepanjang perbatasan dengan Malaysia telah mencatat pemberontakan tingkat rendah.

WowKeren - Setidaknya 17 lokasi di Thailand selatan telah dilanda serangan bom dan kebakaran pada Selasa (16/8) malam hingga Rabu (17/8) dini hari, kata pejabat militer dan polisi. Sebanyak 17 serangan bom terjadi di provinsi selatan Pattani, Narathiwat dan Yala.

Serangan sebagian besar terjadi di toko-toko kecil dan pompa bensin, sebagaimana dikatakan oleh juru bicara militer Pramote Promin. Sedikitnya tiga warga sipil dilaporkan terluka. Sejauh ini belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Kapten Polisi Sarayuth Kotchawong menuturkan bahwa sesaat sebelum tengah malam, dia menerima laporan bahwa seorang tersangka telah memasuki sebuah toko di sebuah pompa bensin di distrik Yaha Yala. Pria tersebut kemudian meletakkan tas hitam di sana dan mengingatkan para karyawan untuk pergi jika mereka tidak ingin mati.

Tas itu meledak sepuluh menit kemudian dan para pekerja telah keluar meninggalkan toko. Sementara itu selama beberapa dekade, provinsi-provinsi yang ada di bagian selatan yang terletak di sepanjang perbatasan dengan Malaysia telah mencatat pemberontakan tingkat rendah.


Pemerintah telah berusaha memerangi kelompok-kelompok yang berusaha mencari kemerdekaan untuk provinsi-provinsi yang mayoritas Muslim di Pattani, Yala, Narathiwat, dan sebagian Songkhla. Menurut kelompok Deep South Watch yang memantau kekerasan itu, lebih dari 7.300 orang telah menjadi korban tewas dalam konflik yang berlangsung sejak 2004.

Pembicaraan damai pada dasarnya telah dimulai sejak tahun 2013 namun kerap mengalami gangguan berulang. Serangan yang terjadi baru-baru ini terjadi setelah pemerintah Thailand memulai kembali diskusi dengan kelompok pemberontak utama, Barisan Revolusi Nasional, awal tahun ini.

Orang-orang Muslim Thailand di selatan telah lama menuduh mereka diperlakukan seperti warga negara kelas dua di negara yang didominasi umat Buddha itu. Tindakan keras oleh pemerintah Thailand juga telah memicu ketidakpuasan di provinsi-provinsi selatan.

"Jelas bahwa para pemberontak tetap berkomitmen," kata juru bicara militer Promin. "Untuk menggunakan kekerasan terhadap rakyat, merusak kepercayaan terhadap ekonomi, menciptakan ketidakpastian dan merusak sistem pemerintahan."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts