Maroko Marah ke Adidas Terkait Dugaan Perampasan Budaya untuk Koleksi Jersey
ADIDAS
Dunia

Pemerintah Maroko telah mengirimkan surat kepada CEO Adidas Kasper Rorsted yang berisi tuntutan untuk penarikan produk jersey baru mereka dalam waktu dua minggu.

WowKeren - Pemerintah Maroko telah memerintahkan penarikan koleksi jersey terbaru dari merek ternama Adidas untuk tim sepak bola nasional Aljazair dari pasar. Maroko menuduh perusahaan pakaian olahraga asal Jerman tersebut telah mengambil warisan budaya Maroko.

Melalui sebuah pernyataan pekan ini, Kementerian Pemuda, Kebudayaan dan Komunikasi Maroko menyatakan bahwa desain pada kaus tim saingan Afrika Utara menggambarkan mosaik tradisional ubin gerabah berwarna, yang dikenal di Maroko sebagai Zellige.

Apa yang dilakukan dianggap sebagai perampasan budaya. "Ini perampasan budaya, percobaan perampokan bentuk warisan budaya tradisional Maroko," tegas pemerintah.

Maroko telah mengirimkan surat kepada CEO Adidas Kasper Rorsted yang berisi tuntutan untuk penarikan produk jersey dalam waktu dua minggu. Jika tidak, Maroko mendesak Adidas untuk merilis pernyataan "untuk mengidentifikasi seni Zellige Maroko sebagai inspirasi".


Tak hanya itu, pemerintah Maroko juga mengancam akan membawa kasus itu "ke hadapan organisasi-organisasi yang berkaitan dengan perlindungan warisan dan hak cipta". Tak terkecuali Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO).

Sebagaimana diketahui, seni dan kerajinan Zellige telah ada dan dipraktikkan di seluruh Afrika Utara dan Andalusia, yang merupakan wilayah otonom Spanyol. Pemerintah Maroko juga telah mengirim peringatan hukum ke Adidas, sebagaimana dikatakan oleh pengacara dari Kementerian Budaya kepada Associated Press.

Sementara itu, Adidas telah meluncurkan desain baru itu minggu lalu. Melalui akun Instagram mereka, perusahaan mengatakan bahwa koleksi pakaian budaya Aljazair terinspirasi oleh desain arsitektur Istana El Mechouar yang ikonik di kota Tlemcen, Aljazair utara.

Di lain sisi, hubungan antara Aljazair dan Maroko telah menegang karena Sahara Barat, sebuah wilayah yang dianeksasi oleh Maroko pada tahun 1975. Sahrawis dari Front Polisario yang didukung Aljazair telah mencari kemerdekaan untuk wilayah tersebut selama beberapa dekade. Aljazair mendukung gerakan Polisario di Sahara Barat yang dianggap Maroko sebagai bagian dari wilayahnya sendiri.

(wk/zodi)

You can share this post!

Rekomendasi Artikel
Berita Terkait