Jokowi Terus 'Gemukkan' Koalisi Tapi Disebut Bakal 'Kesepian', Kenapa?
Nasional

Banyak pihak menduga Jokowi berencana 'mengompongkan' oposisi lantaran terus menggelar konsolidasi dengan pentolan pihak tersebut, seperti Prabowo (Gerindra), Zulhas (PAN), dan SBY (Demokrat).

WowKeren - Sedianya empat hari lagi Joko Widodo akan dilantik menjadi Presiden RI untuk periode 2019-2024. Menjelang pelantikan tersebut, sejumlah agenda pun dilakukan oleh Jokowi. Salah satunya menggelar pertemuan dengan tokoh-tokoh nasional.

Menariknya, Jokowi justru terpantau terus mengadakan pertemuan dengan "pentolan" kubu oposisi. Diawali pertemuannya dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto, dan yang terakhir Ketum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan (Zulhas).

Namun Jokowi tak pernah menjawab gamblang terkait isi pertemuan tersebut. Dugaan bahwa oposisi tengah ditarik untuk bergabung dengan pemerintah pun dibiarkan mengambang oleh Jokowi, tak dibenarkan tetapi juga tidak dimentahkan.

Fenomena ini pun ditanggapi oleh Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun. Menurutnya sang presiden telah berhasil mengonsolidasikan seluruh kekuatan partai politik menjelang pelantikannya.


Lebih lanjut, menurut Rico, konsolidasi yang dilakukan Jokowi dilakukan dalam dua formula, yakni power sharing di bidang eksekutif dan legislatif. "Untuk power sharing di legislatif terlihat jelas, dengan semua fraksi alias parpol mendapat posisi prestisius di wakil ketua MPR," kata Rico, Rabu (16/10).

Dari sisi eksekutif tentu saja terkait isu "bagi-bagi" kursi menteri yang diduga terjadi saat pertemuan antara Jokowi dengan para ketum parpol oposisi. Setelahnya Prabowo pun menggelar pertemuan "kulonuwun" dengan parpol koalisi Jokowi, seperti dengan Ketum Partai Nasional Demokrat Surya Paloh dan Ketum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar.

"Simbol utama oposisi seperti Prabowo terlihat jelas masuk dalam skema bagi kuasa eksekutif. Ini berarti simbol utama oposisi juga sudah rontok," tutur Rico, dilansir Detik News. "Lima tahun ke depan secara konfigurasi elite sepertinya terlihat lancar untuk Jokowi."

Namun demikian, menurut Rico, koalisi "gemuk" ini justru bak bumerang bagi Jokowi. Sebab kedekatan koalisi ini disebut-sebut hanya akan bertahan selama tiga tahun. Setelahnya Jokowi diduga akan menjalani masa "berat dan kesepian" lantaran semua parpol bakal fokus pada urusan masing-masing.

"Semua yang pro Jokowi ini akan berakhir tiga tahun jelang 2024. Karena saat itu semua partai akan memikirkan nasibnya di Pileg 2024," pungkas Rico. "Justru Jokowi akan kesepian di pertengahan masa jabatan keduanya."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait