Selain dikarantina, seluruh paspampres Trump wajib menjalani pemeriksaan corona dua hari sebelum bertugas. Pemeriksaan rutin ini akan dilakukan selama beberapa pekan ke depan.
- Luthfiatun Nisa
- Jumat, 26 Juni 2020 - 09:12 WIB
WowKeren - Puluhan pasukan pengamanan Presiden Amerika Serikat alias paspampres Donald Trump akan menjalani karantina setelah sejumlah staf kampanye dinyatakan positif terinfeksi virus corona (COVID-19).
Karantina dilakukan sebagai langkah antisipasi penyebaran COVID-19 terhadap sang Presiden. Pasalnya, jumlah staf kampanye Trump yang dinyatakan positif COVID-19 terus bertambah menjadi delapan orang usai menggelar acara di Tusla, Oklahoma, pada pekan lalu.
Dilansir CNN pada Jumat (26/6), selain dikarantina, seluruh pasukan pengaman Presiden yang ikut perjalanan dinas Trump wajib menjalani pemeriksaan corona dua hari sebelum bertugas. Pemeriksaan rutin ini akan dilakukan selama beberapa pekan ke depan.
Seorang petinggi paspampres Trump juga mengatakan kebijakan tersebut tidak akan mempengaruhi operasi pasukan dalam menjamin keamanan sang Presiden. "Kami ingin memastikan bahwa kami memiliki tenaga kerja yang sehat dan bahwa kami melindungi orang-orang kami. Ini masuk akal," kata pejabat tersebut.
Sementara itu, juru bicara Paspampres AS, Catherine Milhoan, mengatakan pihaknya tetap siap memenuhi tugas yang beragam. Namun Milhoan mengklaim bahwa pihaknya tak akan mengatakan berapa jumlah staf yang terinfeksi COVID-19, dengan alasan melindungi privasi informasi.
"Untuk melindungi privasi informasi kesehatan karyawan kami dan untuk keamanan operasional, kami tidak akan merilis jumlah karyawan yang dinyatakan positif corona atau berapa banyak yang dikarantina saat ini," ucap Milhoan.
Di sisi lain, aksi Trump yang tetap menggelar kampanye di Tusla ini sebenarnya menimbulkan kontroversi di kalangan publik. Sejumlah pihak khawatir pengumpulan massa bisa meningkatkan risiko penularan virus corona yang terus mengalami kenaikan signifikan.
Namun Presiden berusia 74 tahun itu bahkan tak menggubris masukan ahli kesehatan dan media Oklahoma soal protokol kesehatan semasa kampanye. Bukan hanya itu saja, dalam kicauannya di Twitter pekan lalu, Trump bahkan mengklaim bahwa hampir satu juta orang ingin mengikuti kampanyenya di Tulsa.
(wk/luth)