Upaya yang diberlakukan di Korea Selatan untuk mengurangi lonjakan kasus COVID-19 diperkirakan akan merugikan ekonomi terbesar keempat di Asia. Perlu diketahui, Negeri Ginseng itu saat ini tengah melakukan pembatasan tingkat 2.
- Nidya Putri
- Rabu, 02 September 2020 - 14:51 WIB
WowKeren - Korea Selatan saat ini tengah terancam menghadapi gelombang ketiga virus corona (COVID-19). Bahkan saat ini, Negeri Ginseng itu masih memberlakukan pembatasan tingkat 2 demi mencegah penyebaran COVID-19 kian meluas.
Adanya lonjakan kasus dan pembatasan ini tentunya membuat ekonomi Korsel merugi. Perekonomian Korea Selatan menyusut 3,2 persen pada periode April-Juni dari kuartal sebelumnya, data bank sentral yang direvisi menunjukkan, kontraksi paling tajam sejak kuartal terakhir tahun 2008.
Ekspor Korea Selatan pada Agustus lalu merosot, memasuki bulan ke enam berturut-turut. Oleh karena itu, pemerintah pun mengumumkan rencana untuk meningkatkan pengeluaran secara agresif selama beberapa tahun ke depan dan mengatakan siap untuk meningkatkan dukungan kebijakan jika tingkat infeksi memburuk secara signifikan.
"(Beberapa) penurunan tidak bisa dihindari dalam ekonomi riil karena langkah-langkah pencegahan yang diperketat," kata Wakil Menteri Keuangan Kim Yong Beam. Dalam langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk Korea Selatan, pemerintah pada hari Jumat membatasi pengoperasian restoran, kedai kopi, gereja, dan klub malam. Sebagian besar sekolah umum telah diperintahkan untuk ditutup.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea melaporkan 235 kasus baru COVID-19 pada tengah malam Senin, sehingga total negara itu menjadi 20.182 kasus dan 324 kematian. Kasus harian telah turun sedikit selama lima hari berturut-turut, meskipun kasus berjumlah ratusan selama hampir tiga minggu ketika gelombang kedua infeksi menyapu Seoul yang padat penduduk dan menyebar ke seluruh negeri.
Demi mengatasi kemerosotan ekspor dan sektor ritel, pemerintah berencana untuk meningkatkan pengeluaran untuk kesejahteraan dan pekerjaan sebesar 10,7 persen, dan mengalokasikan 11,9 persen lebih banyak untuk proyek infrastruktur sosial. Bank sentral mempertahankan suku bunga stabil pada Kamis, tetapi menurunkan prospek pertumbuhan tahun 2020 secara signifikan.
Bank Korea lantas melaporkan bahwa produk domestik bruto kemungkinan akan menyusut 1,3 persen pada tahun 2020, kontraksi terbesar dalam lebih dari dua dekade, dari perkiraan sebelumnya untuk penurunan 0,2 persen.
Sayangnya, pada Senin lalu, seorang pelempar bisbol liga kelas bawah dinyatakan positif terkena virus corona. Hal ini menimbulkan keraguan pada sisa musim olahraga tersebut.
Padahal sebelumnya pada akhir Juli, penggemar diizinkan untuk menghadiri pertandingan bisbol dalam jumlah terbatas. Tetapi dengan meningkatnya jumlah infeksi, stadion sekali lagi ditutup untuk penggemar pada pertengahan Agustus.
(wk/nidy)