Tak Cuma Kopi, Permen Juga Bisa Digunakan Untuk Mendeteksi COVID-19
Shutterstock/Shawn Hempel
Health
Pandemi Virus Corona

Direktur Center for Smell and Taste Florida University, Steven Munger menyebutkan jika permen jellybean atau permen dengan tekstur dan rasa yang unik bisa digunakan untuk mendeteksi COVID-19.

WowKeren - Penderita COVID-19 mengalami berbagai gejala yang berbeda tiap individu. Namun, gejala yang kerap dialami oleh para pasien Corona adalah kehilangan kemampuan indra penciuman atau anosmia.

Meski begitu, gejala ini tidak selalu karena virus Corona, tapi bisa juga karena virus lain seperti penyebab pilek dan flu. Ahli THT Erich Voight mengatakan, pembengkakan yang terjadi di hidung akibat virus juga bisa mencegah partikel bau mencapai area saraf penciuman yang ada pada hidung.

"Saat pembengkakan itu mereda, indera penciuman bisa kembali," ujar Voight dilansir CNN, Jumat (15/1). Selain pilek dan flu, hilangnya fungsi indra penciuman juga bisa disebabkan karena polip hidung, tumor, penyakit neurodegeneratif. Misalnya seperti Alzheimer, Parkinson, serta cedera otak atau trauma kepala.

Untuk memastikan fungsi indra penciuman dan perasa dalam keadaan baik, salah satu caranya bisa menggunakan jellybean atau permen dengan tekstur dan rasa yang unik. Direktur Center for Smell and Taste Florida University, Steven Munger pun membagikan cara mudah untuk menguji indra penciuman dengan jellybean.


Caranya dengan menutup lubang hidung hingga tidak ada aliran udara yang masuk, lalu masukkan jellybean ke dalam mulut dan dikunyah. "Jika Anda mendapatkan rasa gurih ditambah manisnya jellybean, berarti fungsi indera perasa Anda masih berfungsi," kata Munger.

Setelah itu, saat masih mengunyah lepas tangan yang menutupi lubang dengan cepat. Jika fungsi indra penciuman masih berjalan normal, kamu bisa mencium semua bau termasuk bau permen jellybean yang kamu kunyah. "Ini benar-benar jenis respons yang sangat dramatis dan cepat," lanjutnya.

Secara ilmiah, proses tersebut dikenal dengan istilah penciuman hidung retro. Pada kondisi ini, bau akan mengalir dari bagian belakang mulut, ke atas melalui faring, dan masuk ke rongga hidung.

Sebelumnya, penelitian serupa telah dilakukan dengan melibatkan kopi sebagai alat pendeteksi. Caranya mudah, jika seseorang tak bisa mencium kopi, kemungkinan ia mengalami anosmia.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts