Tya Ariestya Hingga Adik Ayu Ting Ting Diet Tanpa Sayur, Ahli Gizi Ungkap Bahaya Ekstrem Ini
Instagram/tya_ariestya
Selebriti
Kontroversi Buku Diet Tya Ariestya

Pola diet tanpa memakai sayur rupanya berbahaya dan bisa memicu sejumlah penyakit. Simak analisa ahli gizi terkait bahaya yang mengancam jika tubuh kita tak mengonsumsi sayuran.

WowKeren - Belakangan, program diet ekstrem rupanya tengah jadi sorotan. Bukan cuma Tya Ariestya, adik Ayu Ting Ting, Syifa, juga sempat pamer menu diet ekstrem tanpa sayur.

Salah satu fitness influencer, Yulia Baltschun, mengungkap salah satu bahaya akibat diet ekstrem. Yakni mengalami kerontokan pada rambut.

Namun ahli gizi sekaligus Ketua Indonesia Sport Nutrisionis Association (ISNA) Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes mengungkap kalau bahaya diet ekstrem bukan cuma sekedar rambut rontok. Dilansir dari ANTARA, Dr. Rita mengungkap kalau sayur kaya akan hal baik bagi kesehatan tubuh. Karena itu, dia tak membenarkan soal prinsip sayur bisa menghambat penurunan berat badan.

"Ini salah kalau dikatakan sayur menghambat penurunan berat badan. Secara kimia tubuh, justru sayur yang membantu jika terjadinya kerusakan metabolik ketika kita melakukan defisit energi," kata dokter sekaligus ahli gizi dari FKM UI Jakarta itu. "Ketika kita mendefisitkan energi, kemudian mikronutrien (seperti vitamin dan mineral) dan seratnya tidak dicukupi, itu akan membuat sistem kerja metabolik energi itu berlangsung tidak sempurna, dan itu tubuh membutuhkan serat dari sayuran."


Menurut Dr. Rita, mikrobiota dalam tubuh sangat membutuhkan serat dari sayuran. Jika tidak, maka mikrobiota yang punya peran penting buat imunitas tubuh itu akan mati sehingga antibodi tidak terbentuk dan imunitas melemah. Bukan cuma itu, serat dari sayuran juga bisa mengontrol kolesterol dan menstabilkan kadar glukosa darah. Jika hanya memakan nasi dengan lauk tanpa serat, maka kadar glukosa akan naik dan merangsang insulin.

"Insulin, kalau diproduksi dalam jumlah yang tinggi, bisa terjadi proses inflamasi atau peradangan dalam waktu yang singkat. Dalam waktu panjang, itu beresiko hiperglikemi dan diabetes meritus," ujar Dr. Rita.

Serat juga bisa memicu keluarnya zat toksik dalam tubuh sehingga meminimalisir resiko kanker kolon. Selain itu, sayur bisa menghasilkan sisa basa yang sesuai dengan pH tubuh.

"Tubuh kita pH-nya basa. Jadi kalau kita mengonsumsi makanan lalu hasilnya asam, maka ginjal, hati dan paru-paru langsung bekerja untuk membasakan," kata Dr. Rita. "Orang yang misalnya hanya makan protein saja bisa gagal ginjal karena ginjalnya bekerja keras untuk membasakan. Kalau kita makan sayur, maka itu akan membasakan dan kerja tubuh kita jadi tidak berat."

(wk/riaw)

You can share this post!

Related Posts