Tembus 20 Juta Kasus Positif, India Catat 120 Kematian COVID-19 per Jam
Unsplash/Tejj
Dunia
Pandemi Virus Corona

Di saat banyak orang-orang yang meninggal dunia akibat kekurangan oksigen setiap harinya, para ahli juga mengkhawatirkan kekurangan jumlah vaksin COVID-19 di India.

WowKeren - India kini tengah berhadapan dengan "tsunami" kasus virus corona (COVID-19). Jumlah kumulatif kasus positif COVID-19 di India bahkan telah menembus angka 20 juta per Selasa (4/5), 7 juta kasus di antaranya baru terkonfirmasi selama sebulan terakhir.

Dari total 222 ribu kematian akibat COVID-19, lebih dari 57 ribu kasus baru tercatat selama sebulan terakhir. Jumlah tersebut setara dengan 80 kematian COVID-19 per jam. Dan karena data pemerintah hanya mencakup kematian COVID-19 yang terdaftar di rumah sakit, banyak yang percaya bahwa jumlah korban jiwa pandemi sebenarnya jauh lebih tinggi.

Sejak akhir bulan April 2021 lalu, kasus kematian COVID-19 harian yang dilaporkan India rata-rata telah mencapai angka 3 ribu. Mengutip CBS News, pandemi corona di India diperkirakan telah merenggut rata-rata sekitar 120 nyawa per jam selama dua pekan terakhir ini.

India dilaporkan mengalami kekurangan tempat tidur rumah sakit, dokter, perawat, ventilator, oksigen, hingga obat-obatan. Hampir sebulan sejak kekurangan suplai tersebut dilaporkan, namun tetap tidak ada peningkatan yang berarti dalam penyediaan kebutuhan ini.


Di saat banyak orang-orang yang meninggal dunia akibat kekurangan oksigen setiap harinya, para ahli mengkhawatirkan kekurangan jumlah vaksin COVID-19. Diketahui, pemerintah federal telah secara resmi membuka program vaksinasi untuk seluruh orang dewasa mulai 1 Mei 2021.

Namun demikian, dosis vaksin yang ada tidak mencukupi untuk pelaksanaan program tersebut. Negara-negara bagian termasuk Maharashtra dan Delhi harus sepenuhnya menunda peluncuran vaksin untuk orang dewasa muda karena mereka tidak memiliki jumlah dosis yang cukup.

Adar Poonawalla selaku CEO Serum Institute of India yang telah memproduksi vaksin Oxford- AstraZeneca di India dengan nama Covishield, telah memperingatkan bahwa kekurangan vaksin akan berlanjut selama berbulan-bulan. Poonawalla mengatakan kepada Financial Times bahwa produksi baru akan meningkat dari 60-70 juta dosis per bulan menjadi 100 juta pada Juli mendatang.

Hal ini memperburuk ketakutan para ahli kesehatan, mengingat program vaksinasi massal secara agresif dan lockdown adalah satu-satunya metode yang telah terbukti dapat mengendalikan tingkat infeksi di seluruh dunia. Penundaan program vaksinasi dikhawatirkan dapat berujung pada kematian yang tak terhitung jumlahnya.

"Kami berada dalam situasi yang sangat suram selama dua sampai tiga bulan ke depan," ujar ahli epidemiologi dan ekonom Dr. Ramanan Laxminarayan kepada CBS News. "Dengan banyaknya bagian India yang masih berbaur bebas tanpa memperhatikan protokol COVID, kami tidak dapat membengkokkan kurva dengan berfokus pada tempat-tempat yang kasusnya meningkat saat ini."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts