'Matahari Buatan' Tiongkok Pecahkan Rekor Baru, Capai 120 Juta Derajat Celcius Selama 101 Detik
Tekno

Adapun proyek ini bertujuan untuk menciptakan fusi nuklir seperti matahari menggunakan deuterium yang berlimpah di laut untuk menyediakan aliran energi bersih yang stabil.

WowKeren - Ilmuwan Tiongkok memecahkan rekor baru dengan proyek Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) atau "matahari buatan". Para ilmuwan Tiongkok dilaporkan berhasil menahan plasma 120 juta derajat Celcius selama 101 detik dalam percobaan terbaru mereka.

Selain itu, proyek tersebut juga dilaporkan sempat mencapai suhu plasma 160 juta derajat Celcius yang bertahan selama 20 detik. Terobosan ini diumukan oleh Gong Xianzu, seorang peneliti di Institut Fisika Plasma Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (ASIPP), yang bertanggung jawab atas eksperimen yang dilakukan di Hefei, Provinsi Anhui, Tiongkok timur tersebut.

Adapun proyek EAST ini bertujuan untuk menciptakan fusi nuklir seperti matahari menggunakan deuterium yang berlimpah di laut untuk menyediakan aliran energi bersih yang stabil. Melalui reaksi fusi, deuterium dalam satu liter air laut diperkirakan dapat menghasilkan jumlah energi yang setara dengan 300 liter bensin.

Sekitar 300 ilmuwan dan insinyur dimobilisasi untuk mendukung pengoperasian fasilitas percobaan tersebut. Fasilitas tersebut meliputi sistem vakum, sistem gelombang RF, sistem hamburan laser, dan sistem gelombang mikro. Menurut ASIPP, persiapan dan pekerjaan peningkatan untuk proyek ini telah dimulai sekitar setahun yang lalu.


"Ini pencapaian besar di bidang fisika dan teknik Tiongkok," ungkap Direktur ASIPP, Song Yuntao, mengutip CGTN pada Senin (31/5). "Keberhasilan eksperimen tersebut meletakkan dasar bagi Tiongkok untuk membangun stasiun energi fusi nuklirnya sendiri."

Sebelumnya, proyek EAST telah berhasil menghasilkan suhu elektron 100 juta derajat Celcius dalam plasma intinya pada November 2018 lalu. Suhu tersebut hampir tujuh kali suhu interior matahari. Sementara itu, EAST mencapai suhu plasma 100 juta derajat Celcius selama 20 detik tahun lalu.

Berbeda dengan bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas alam yang terancam habis, bahan mentah yang dibutuhkan untuk "matahari buatan" ini hampir tidak terbatas di bumi. Oleh sebab itu, energi fusi dianggap sebagai "energi akhir" yang ideal dengan potensi untuk membantu Tiongkok mewujudkan netralitas karbon.

Energi fusi tidak hanya membutuhkan kemampuan penelitian ilmiah terbaik tetapi juga instrumen eksperimental yang masif. Sejak beroperasi pada tahun 2006, EAST yang dirancang dan dikembangkan Tiongkok telah menjadi platform pengujian terbuka bagi ilmuwan Tiongkok dan internasional untuk melakukan eksperimen terkait fusi.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts