Kasus COVID-19 Harian Tembus 10.000, Jepang Bersiap Perluas Status Darurat
Dunia
Pandemi Virus Corona

Pejabat di seluruh negeri melaporkan angka tinggi pada hari Kamis (29/7) termasuk pemecahan rekor 3.865 di Tokyo serta 1.164 di Kanagawa, 864 di Saitama dan 506 di Chiba.

WowKeren - Kasus COVID-19 Jepang kian melonjak. Pada Kamis (29/7) negara ini mencatat rekor harian kasus COVID-19 yang tembus melebihi angka 10.000.

Pejabat di seluruh negeri melaporkan angka tinggi di hari tersebut termasuk pemecahan rekor 3.865 di Tokyo serta 1.164 di Kanagawa, 864 di Saitama dan 506 di Chiba. Perdana Menteri Yoshihide Suga diperkirakan akan mengumumkan Jumat malam bahwa keadaan darurat keempat negara itu akan diperluas.

Saat ini, status darurat tengah aktif diberlakukan di Tokyo dan Okinawa hingga 22 Agustus mendatang. Menteri yang memimpin respons virus corona negara itu, Yasutoshi Nishimura, mengatakan, "Jika kami menerima permintaan, kami akan segera meresponsnya."

Sebelumnya, dilaporkan jika beberapa wilayah di sekitar Tokyo seperti Chiba, Saitama, dan Kanagawa, berencana meminta pemerintah pusat untuk menempatkan daerahnya dalam keadaan darurat. Hal ini diperlukan sebagai upaya untuk membendung peningkatan tajam kasus COVID-19. Ketiga wilayah prefektur itu saat ini diketahui tengah menerapkan status pra-darurat.


Kendati demikian, para ahli tetap meragukan dampak signifikan dari perluasan status darurat yang sedang berlangsung jika tidak ada pesan yang kuat dari pejabat di tingkat tinggi. Shigeru Omi, ketua subkomite virus corona pemerintah pusat, pada Kamis mengatakan jika bahaya terbesar saat ini adalah parahnya situasi tidak dikomunikasikan kepada publik.

"Jika rasa urgensi itu tidak tersampaikan dengan cukup, virus akan menyebar lebih jauh," tegas Omi. "Dan beban pada sistem perawatan kesehatan akan menjadi semakin parah."

Dibandingkan dengan gelombang sebelumnya, Jepang mencatat jumlah kasus harian yang lebih tinggi. Infeksi di kalangan anak muda juga lebih banyak yang diperparah dengan ancaman varian delta yang lebih mematikan. Namun demikian, jauh lebih sedikit kematian dan pasien dengan gejala parah yang memerlukan perawatan intensif.

Namun sejumlah wilayah melaporkan peningkatan jumlah pasien yang sakit parah terutama di antara orang-orang berusia 40 dan 50-an. Yang mana kondisi ini turut menyumbang peningkatan tempat tidur.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts