Penerima Vaksin Wajib Waspadai Infeksi Terusan COVID-19, Bisa Sebabkan Kematian?
AFP
Health
Vaksin COVID-19

Tingkat kemanjuran dan efektivitas vaksin yang belum sampai 100 persen membuat penerimanya masih berpotensi terinfeksi COVID-19 bahkan setelah vaksinasi dosis penuh.

WowKeren - Vaksinasi COVID-19 memang digadang-gadang menjadi upaya terbaik menyelesaikan pandemi COVID-19. Namun efikasi alias kemanjuran vaksin yang tak sampai 100 persen pun membuat potensi penularan wabah virus Corona di masa depan masih tinggi, yang kemudian dikenal sebagai infeksi terusan.

Dan belakangan para peneliti menilai tingkat kemungkinan penderita infeksi terusan COVID-19 untuk masuk rumah sakit semakin tinggi. Bukan cuma itu, mereka yang terinfeksi COVID-19 setelah menerima vaksin ini pun masih berkemungkinan untuk meninggal dunia.

Yang paling rentan adalah mereka yang kekebalan tubuhnya sedang dilemahkan (immunosuppressed) dari kemoterapi, yang baru menjalani transplantasi sumsum tulang atau organ tubuh, maupun penderita HIV/AIDS. Lalu kelompok pengidap kelainan saraf seperti demensia, Parkinson's, lansia dengan perawatan rutin di rumah, hingga mereka dengan kelainan kronis seperti Down Syndrome.

Hal ini terungkap dari peneliti Inggris yang menganalisis data vaksinasi, testing, serta kematian COVID-19 menggunakan alat QCovid. Sampel data yang diteliti mencapai 7 juta penerima vaksin, dengan 5 juta di antaranya sudah menerima dosis lengkap.


"Studi nasional yang sangat besar terhadap lebih dari 5 juta orang yang divaksinasi dengan dua dosis di seluruh Inggris ini telah menemukan bahwa sebagian kecil orang tetap berisiko dirawat di rumah sakit dan kematian COVID-19," kata Prof Aziz Sheikh dari University of Edinburgh, dalam jurnal yang diterbitkan oleh BMJ pada Jumat (17/9). "Kalkulator risiko kami membantu mengidentifikasi mereka yang paling berisiko pasca vaksinasi."

Peneliti menemukan ada 2.000-an kematian COVID-19 di antara mereka yang sudah menerima vaksin. Lalu terdapat hampir 2.000 penerima vaksin pula yang harus dirawat di rumah sakit karena terinfeksi COVID-19.

Sebanyak 81 dari kematian dan 71 dari pasien yang dirawat di RS dikonfirmasi pada 14 hari setelah menerima dosis kedua vaksin, rentang waktu yang diyakini sudah memicu antibodi. Peneliti juga menemukan beberapa faktor penentu lain seperti usia, jenis kelamin, etnis, dan laju infeksi COVID-19.

Namun peneliti menegaskan belum bisa ditarik kesimpulan terutama untuk tingkat kematian dan rawat inap di kelompok penerima dosis penuh vaksin COVID-19. Sebab masih sedikit penelitian terkait.

Sedangkan Prof Julia Hippisley-Cox dari University of Oxford yang ikut dalam riset menyatakan bahwa risiko individu tetap ditentukan dengan kondisi personal serta prevalensi penyakit saat itu. "Namun kami berharap alat baru ini akan membantu pengambilan keputusan bersama dan penilaian risiko yang lebih personal," pungkasnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts