Donald Trump Ajukan Gugatan untuk Memblokir Rilis Catatan Serangan Capitol
Instagram/realdonaldtrump
Dunia

Trump mengklaim 'hak istimewa eksekutif' untuk menghentikan mantan pembantunya memberi bukti kepada Kongres, dalam upayanya untuk menghalangi para penyelidik yang menyelidiki serangan mematikan di Capitol.

WowKeren - Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berusaha untuk memblokir rilis catatan Gedung Putih terkait serangan Capitol pada 6 Januari 2021 lalu. Trump mengklaim "hak istimewa eksekutif" untuk menghentikan mantan pembantunya untuk memberi bukti kepada Kongres, dalam upayanya untuk menghalangi para penyelidik yang menyelidiki serangan mematikan di Capitol.

Dalam gugatan federal, Trump menyebut permintaan komite DPR yang menginvestigasi insiden tersebut "hampir tidak terbatas cakupannya". Dia menyebutnya sebagai "ekspedisi penangkapan ikan ilegal yang menjengkelkan" yang "tidak terikat dari tujuan legislatif yang sah".

Adapun gugatan Trump ini telah diperkirakan sebelumnya karena ia sempat menyatakan akan menentang penyelidikan. Namun gugatan tersebut berusaha untuk membatalkan keseluruhan permintaan kongres, menyebutnya terlalu luas, terlalu membebani dan tantangan untuk pemisahan kekuasaan. Trump meminta perintah pengadilan untuk melarang arsiparis membuat dokumen.

Sebagai informasi, ribuan pendukung Trump menyerbu Capitol pada bulan Januari lalu dalam upaya untuk membatalkan kemenangan Presiden Joe Biden dalam Pilpres AS 2020. Mereka diprovokasi Trump yang menyatakan klaim tak berdasar soal kecurangan Pemilu.


Penyelidik Kongres sedang mencari kesaksian dari para pejabat yang dapat berbicara tentang apa yang diketahui oleh Trump tentang serangan itu sebelumnya. Serta apa yang Trump lakukan saat serangan itu berlangsung.

Sementara itu, Trump memanfaatkan keputusan Mahkamah Agung yang menyatakan bahwa presiden dapat merahasiakan dokumen dan diskusi tertentu untuk mempromosikan wacana yang lebih jujur dengan para pembantunya. Hanya saja, tidak ada pengadilan yang memutuskan apakah hak istimewa itu juga diberikan kepada mantan presiden.

Gugatan Trump meminta hakim federal untuk menyatakan permintaan apa pun dari komite tidak sah dan untuk memblokir Arsip Nasional menyerahkan materi apa pun. Meskipun Trump kemungkinan kalah dalam gugatan tersebut, namun hal tersebut dapat menunda rilis selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, mengancam untuk mendorong kembali laporan tentang serangan itu ke tahun 2022.

Trump juga telah menuntut agar para pembantunya, mulai dari kepala staf terakhirnya Mark Meadows hingga ahli strategi politik Steve Bannon, menentang panggilan pengadilan untuk muncul di hadapan komite. "Kami akan melawan panggilan pengadilan dengan hak istimewa eksekutif dan alasan lain untuk kebaikan negara kami," pungkas Trump.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts