Dinilai Bisa Jadi 'Hadiah' Untuk Putin, Parlemen UE Dukung Labeli Gas-Nuklir Sebagai Energi Hijau
Unsplash
Dunia

Pemungutan suara membuka jalan bagi proposal Uni Eropa itu untuk disahkan menjadi undang-undang, kecuali 20 dari 27 negara anggota blok memutuskan untuk menentang langkah tersebut.

WowKeren - Parlemen Eropa mendukung rencana Uni Eropa untuk melabeli gas dan tenaga nuklir sebagai "energi hijau" ramah iklim pada Rabu (6/7). Padahal Ukraina dan aktivis iklim mengklaim aturan tersebut bisa menjadi "hadiah" untuk Presiden Rusia Vladimir Putin.

Pemungutan suara membuka jalan bagi proposal Uni Eropa itu untuk disahkan menjadi undang-undang, kecuali 20 dari 27 negara anggota blok memutuskan untuk menentang langkah tersebut. Yang mana hal tersebut dinilai sangat tidak mungkin.

Sebagai informasi, persoalan ini dimulai pada akhir tahun lalu dengan bocornya rincian tentang buku panduan investasi hijau UE yang dimaksudkan untuk membantu investor menyalurkan miliaran dolar ke transisi kekuatan bersih. Komisi Eropa memutuskan beberapa proyek gas dan nuklir dapat dimasukkan dalam taksonomi UE untuk kegiatan ekonomi yang ramah lingkungan, dengan syarat-syarat tertentu.

Menurut rencana tersebut, gas dapat gas dapat digolongkan sebagai investasi berkelanjutan jika "kapasitas energi yang sama tidak dapat dihasilkan dengan sumber terbarukan" dan ada rencana untuk beralih ke energi terbarukan atau "gas rendah karbon". Sedangkan tenaga nuklir bisa disebut energi hijau jika sebuah proyek menjanjikan untuk menangani limbah radioaktif.

Rencana tersebut hanya dapat dihentikan oleh mayoritas negara anggota UE atau anggota parlemen Eropa. Karena sebagian besar pemerintah UE mendukung rencana tersebut, perhatian beralih ke parlemen Eropa.


Dalam pemungutan suara pada hari ini, hanya ada 282 anggota parlemen yang memberikan suara untuk mendukung amandemen terhadap masuknya gas dan nuklir. Jumlah tersebut kurang dari 353 suara yang dibutuhkan untuk membatalkan keputusan tersebut.

Perdana Menteri Slovakia Eduard Heger mengatakan hasil pemungutan suara itu bagus untuk keamanan energi dan target pengurangan emisi. "Kami akan tetap berada di jalan menuju netralitas iklim pada tahun 2050," cuitnya di Twitter.

Namun Luksemburg dan Austria yang sama-sama menentang tenaga nuklir telah memperingatkan agar gas tidak dilabeli sebagai energi hijau. Mereka mengatakan akan menantang undang-undang tersebut di pengadilan tinggi UE.

"Ini tidak kredibel, ambisius atau berbasis pengetahuan, membahayakan masa depan kita dan lebih dari tidak bertanggung jawab," kata Menteri Iklim Austria Leonore Gewessler.

Kritikan juga datang dari ilmuwan iklim Ukraina dan anggota Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), Svitlana Krakovska. Menurutnya, keputusan tersebut dapat meningkatkan dana untuk gas fosil dari Rusia.

"Saya terkejut. Perang Rusia melawan Ukraina adalah perang yang dibayar oleh bahan bakar fosil yang memanaskan iklim dan parlemen Eropa baru saja memilih untuk meningkatkan miliaran dana untuk gas fosil dari Rusia. Bagaimana hal itu sejalan dengan sikap Eropa untuk melindungi planet kita dan mendukung Ukraina?" tuturnya.

(wk/Bert)


You can share this post!

Related Posts