WWF Peringatkan Jumlah Satwa Liar Turun Drastis: 68 Persen Selama 4 Dekade
Pixabay
Dunia

WWF juga merinci daerah yang paling parah mengalami penurunan spesies yakni wilayah Amerika Tengah dan Selatan dimana penurunan spesies mencapai 94 persen selama 5 dekade terakhir.

WowKeren - Organisasi konservasi independen terbesar di dunia, Wildlife Fund for Nature (WWF) mengatakan jika angka populasi satwa liar telah menurun secara drastis. Selama kurun waktu 46 tahun (1970-2016), tercatat penurunan populasi hingga 68 persen.

Kondisi ini menunjukkan jika alam sudah mulai tidak seimbang. Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Direktur Jenderal WWF Marco Lambertini.

"Penurunan serius dalam populasi spesies satwa liar ini merupakan indikator bahwa alam sedang terurai," kata Lambertini seperti dilansir dari Deutsche Welle, Jumat (11/9). "Dan bahwa planet kita menunjukkan tanda peringatan bahaya terhadap kegagalan sistem."

Dalam laporan bertajuk "Indeks Planet Hidup 2020", WWF telah melacak lebih dari 4.000 spesies vertebrata. Dalam laporan itu pula disebutkan bahwa penyebab terbesar penurunan populasi satwa liar adalah karena praktik penggundulan hutan.

Penggundulan hutan dilakukan manusia sebagai upaya untuk membuka lahan pertanian baru. Selain itu, penurunan spesies juga disebabkan karena konsumsi terhadap hewan yang berlebihan. Sepertiga daratan di bumi bahkan telah didedikasikan untuk memproduksi makanan.


WWF juga merinci daerah yang paling parah mengalami penurunan spesies. Adalah wilayah Amerika Tengah dan Selatan dimana penurunan spesies bahkan mencapai 94 persen selama lima dekade terakhir.

"Ini mengejutkan," kata Lambertini. "Ini pada akhirnya merupakan indikator dampak kita pada alam."

Kendati demikian, masih ada harapan untuk membalikkan tren penurunan spesies ini. Sebuah studi yang diterbitkan pada Kamis (10/09) di jurnal sains Inggris Nature menyebutkan jika satu-satunya cara adalah dengan menggalakkan konservasi radikal.

Langkah ini harus dilakukan sesegera mungkin. Sebab keanekaragaman hayati adalah hal yang tak tergantikan. Sehingga jika terlambat dalam melakukan upaya penanganan akan butuh waktu lebih lama untuk memulihkannya.

"Kita perlu bertindak sekarang," kata David Leclere dari Institut Analisis Sistem Terapan Internasional, yang memimpin studi tersebut. "Ini menyiratkan bahwa setiap penundaan tindakan, akan memungkinkan hilangnya keanekaragaman hayati lebih lanjut yang mungkin membutuhkan waktu puluhan tahun untuk memulihkannya."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts