Sri Mulyani Akui Indonesia Sudah Resesi, 'Jeblok' Sampai Berapa Persen?
Nasional
Potensi Resesi Imbas COVID-19

Sang Menteri Keuangan kembali tak menutupi fakta bahwa Indonesia jatuh ke jurang resesi di Kuartal iII 2020 ini. Seberapa besar penurunan yang dialami perekonomian Indonesia?

WowKeren - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kian tak menutupi kondisi keuangan Indonesia. Sebab belum lama ini sang menteri dengan tegas menyatakan bahwa Indonesia sedang dilanda resesi, yang tentu tak bisa dilepaskan dari pandemi COVID-19.

Hal ini Sri Mulyani sampaikan ketika menjelaskan soal fungsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya saat ini APBN sedang menjalani fungsi stabilisasi ketika perekonomian sedang turun dan sebuah negara dilanda resesi.

"Stabilisasi, APBN itu untuk menstabilkan," ungkap Sri Mulyani dalam sambutan Olimpiade APBN 2020 tingkat SMA, Selasa (27/10). "Kalau ekonominya lagi panas, lagi tumbuhnya tinggi kita mendinginkan. Kalau ekonominya lagi resesi seperti sekarang ini, maka APBN harus turun tangan untuk bisa memulihkan kembali."

Perihal Indonesia masuk dalam jurang resesi memang sudah berkali-kali disampaikan oleh pemerintah. Kendati demikian pemerintah juga meyakinkan bahwa resesi yang terjadi tidak separah negara-negara lain.


Namun hingga kini belum ada laporan resmi soal kondisi keuangan Indonesia di Kuartal III 2020 oleh Badan Pusat Statistika (BPS). "Jadwalnya 5 November seperti biasa," ujar Kepala BPS, Suhariyanto, menyampaikan kapan jadwal pengumuman hasil auditor kondisi finansial negara, Kamis (1/10).

Kendati demikian pemerintah sudah memberi bocoran terkait seberapa dalam "amblesnya" perekonomian Indonesia karena resesi ini. Salah satu yang terbaru disampaikan oleh Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Marives) Luhut Binsar Pandjaitan pada Rabu (21/10) kemarin.

Luhut memang tidak menampik bahwa terjadi kontraksi pada perekonomian Indonesia di Kuartal III 2020. Hanya saja dipastikan kondisinya tidak akan separah Kuartal II 2020 yang sampai "jeblok" ke level minus 5,3 persen.

"Teman-teman sekalian ekonomi dengan COVID-19 ini betul-betul harus ditata keseimbangannya," terang Luhut dalam acara "Outlook 2021: The Year of Opportunity", dilansir dari CNBC Indonesia. "Kalau kita lihat kita kontraksi kuartal kedua 5,3 persen dan kemudian pada kuartal ketiga ini mungkin sekitar 2,9 persen."

Menko Marives yang itu sendiri optimis bahwa kondisi Indonesia jauh lebih baik daripada negara lain. Sedangkan loyonya perekonomian Indonesia saat ini masih menjadi modal pokok untuk bisa rebound ke level 5 persen pada 2021 mendatang.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts