Menkeu Sri Mulyani Sebut APBN Bekerja Keras, Utang Masih Diandalkan Tutup Defisit
Instagram/smindrawati
Nasional

Menkeu Sri Mulyani ungkap APBN sejak tahun 2020 telah bekerja keras untuk mengatasi permasalahan ekonomi akibat pandemi COVID-19. Oleh sebab itu, Indonesia mengalami defisit sebesar 3 persen.

WowKeren - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani ungkap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bekerja keras sejak tahun lalu karena menjadi sumber utama dalam menjaga perekonomian Indonesia menghadapi pandemi COVID-19. Belanja negara terpaksa ditingkatkan karena rumah tangga dan dunia usaha tertekan oleh pandemi.

"Dua tahun ini APBN sudah bekerja keras," ujar Sri Mulyani dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional, Selasa (4/5). "Tahun 2022 menjadi pondasi untuk mengembalikan defisit APBN paling tinggi 3 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) pada 2023."

Belanja negara yang dinaikkan tersebut untuk menanggulangi pandemi COVID-19, baik dari sisi kesehatan maupun sosial ekonomi. Di tengah kegoyahan perekonomian Indonesia, defisit anggaran menjadi naik sangat tinggi meski tidak seperti negara lain.

"Meskipun relatif kecil dari total defisit maupun rasio utang terhadap PDB, kita harus tetap hati-hati," terang Sri Mulyani. "Kenaikan utang dalam jumlah yang extraordinary harus prudent, terlebih dengan adanya tren kenaikan suku bunga dunia."


Selanjutnya, pemerintah masih akan mengandalkan utang untuk menutup defisit yang berada di tingkat 3 persen. Sri Mulyani memastikan utang akan dijaga pengelolannya.

Maka dari itu, Sri Mulyani menerangkan bahwa kebijakan fiskal 2022 adalah menuju konsolidasi atau "mengencangkan ikat pinggang". Belanja negara akan lebih difokuskan untuk bantuan sosial (bansos) secara lebih akurat, belanja kementerian/lembaga diprioritaskan sesuai ketersediaan anggaran, belanja barang akan lebih efisien, dan belanja modal dipertajam.

Sementara itu, untuk membantun penambahan penerimaan negara, berbagai reformasi juga akan dilakukan. Dengan begitu, penerimaan bisa meningkat, sehingga dapat membantu menurunkan rasio defisit anggaran lebih signifikan.

"Meningkatkan tax ratio dan meningkatkan basis pajak. Kita kan melaksanakan cukai plastik dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai)," tutup Sri Mulyani. "Struktur perekonomian akan memberikan kontribusi perpajakan dan tidak bergantung kepada satu sektor saja dengan diversifikasi seperti pertanian, manufaktur, perdagangan, dan lain-lain bisa kontribusi dalam penerimaan negara."

(wk/wahy)

You can share this post!

Related Posts