Olimpiade Tokyo 'Panen' Atlet Positif COVID-19, Pamor PM Jepang Langsung Anjlok
Wikimedia Commons
Dunia
Kontroversi Olimpiade Tokyo

Elektabilitas terhadap kabinet Perdana Menteri Yoshihide Suga langsung terkikis menyusul berbagai pemberitaan soal kasus COVID-19 di antara para atlet Olimpiade Tokyo.

WowKeren - Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga dan jajaran pemerintahannya terus mendorong diselenggarakannya Olimpiade Tokyo meski di tengah pro dan kontra karena lonjakan kasus COVID-19. Bahkan beberapa atlet sudah mulai berdatangan ke Jepang dan menjalani karantina di wilayah khusus yang disebut "Kampung Atlet".

Melansir CGTN, hingga kini sudah ada 6 atlet lari dan lapangan Inggris serta dua staf mereka yang dikonfirmasi positif COVID-19 maupun yang diminta untuk menjalani isolasi mandiri karena berkontak dengan pasien COVID-19. Lebih spesifiknya, ke-8 orang ini teridentifikasi memiliki kontak dekat dengan seorang pasien COVID-19 dalam penerbangan ke Jepang, sebuah fakta yang juga dikonfirmasi di Asosiasi Olimpiade Inggris pada Minggu (18/7).

"Semua anggota grup dites COVID-19 di bandara dan hasilnya negatif, begitu pula sewaktu dites saat tiba di Jepang," jelas Asosiasi Olimpiade Inggris. Namun mereka dikonfirmasi berkontak dekat dengan seseorang di luar tim yang positif COVID-19/.


Situasi ini membuat publik makin mempertanyakan keamanan pelaksanaan Olimpiade Tokyo dan berujung pada menurunnya elektabilitas PM Suga. Kabinet PM Suga, berdasarkan jajak pendapat Kyodo News pada Minggu (18/7) kemarin, mencapai tingkat elektabilitas 35,9 persen dan merupakan yang terendah sejak mereka mulai memimpin Jepang.

Tingkat ketidakpuasan akan kinerja PM Suga juga meningkat menjadi 49,8 persen. Angka ini pun lagi-lagi merupakan yang terburuk sejak PM Suga menjabat sejak September 2020 lalu, sekaligus menunjukkan seberapa besar kekhawatiran publik akan pelaksanaan Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo di tengah pandemi COVID-19.

Di sisi lain, pemerintah Jepang memang telah menyiapkan skenario karantina yang disebut "gelembung". Total 11 ribu atlet akan dikarantina di "Kampung Atlet", tidak boleh meninggalkan area kecuali untuk latihan, serta tidak boleh berinteraksi dengan masyarakat umum selama turnamen.

Namun baru-baru ini konsep "gelembung" karantina yang dicetuskan memicu pertanyaan soal keamanannya. Sebab seorang atlet angkat beban asal Uganda dilaporkan menghilang dari hotel tempatnya melakukan isolasi, menyisakan sebuah surat terakhir yang cukup mengejutkan.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts