Uji Klinis Obat Malaria Hidroksiklorokuin Terbukti Tak Efektif untuk Cegah COVID-19
Health
Pandemi Virus Corona

Penelitian yang dipimpin oleh sebuah tim di University of Minnesota menyimpulkan bahwa hydroxychloroquine tidak menunjukkan manfaat signifikan sebagai profilaksis untuk COVID-19

WowKeren - Para ilmuwan melaporkan bahwa uji klinis obat malaria hydroxychloroquine (hidroksiklorokuin) terbukti tak efektif untuk mencegah infeksi virus corona (COVID-19).

Dikutip dari The Jakarta Post pada Kamis (4/6), sebuah percobaan yang melibatkan 821 orang di seluruh Amerika Serikat dan Kanada menunjukkan bahwa obat itu tidak bekerja secara signifikan. Penelitian ini dipimpin oleh sebuah tim di University of Minnesota, dan makalah mereka diterbitkan dalam New England Journal of Medicine.

Para peneliti meneliti orang dewasa yang melakukan kontak dengan seseorang yang memiliki kasus COVID-19. 719 di antaranya dianggap memiliki paparan "berisiko tinggi" karena mereka tidak mengenakan masker wajah atau pelindung mata pada saat itu, sementara sisanya "berisiko sedang" karena mereka menutupi wajah mereka tetapi tidak mengenakan kacamata.

Para peneliti kemudian melihat berapa banyak pasien yang terinfeksi COVID-19 selama dua minggu ke depan, yang dikonfirmasi dengan tes laboratorium atau dengan tanda-tanda klinis. "Percobaan acak ini tidak menunjukkan manfaat signifikan dari hydroxychloroquine sebagai profilaksis untuk COVID-19," tulis para ilmuwan.


Sebelumnya, pada 25 Mei lalu WHO yang secara resmi menghentikan pengujian terhadap hydrxychloroquine sebagai pengobatan virus corona karena kekhawatiran atas keselamatan pasien.

Penghentian itu terjadi setelah studi medis pada bulan Mei mengatakan obat itu dapat meningkatkan risiko pasien meninggal akibat COVID-19. Pada pekan lalu, kajian yang dimuat jurnal ilmiah, Lancet, menyebutkan penanganan para pasien COVID-19 dengan obat antimalaria hydroxychloroquine sama sekali tidak ada manfaatnya. Kemudian WHO mengatakan hydroxychloroquine akan dihapus dari uji coba tersebut sambil menunggu penilaian terhadap aspek keamanan.

Hydroxychloroquine diklaim aman bagi pasien malaria, serta pasien lupus atau arthritis, namun tidak ada uji klinis yang merekomendasikan hidroksiklorokuin bagi pasien yang terjangkit virus corona. Kajian terbaru melibatkan 96 ribu pasien COVID-19. Dari jumlah itu, hampir 15 ribu di antara mereka diberikan hydroxychloroquine, baik sebagai obat tunggal maupun dengan didampingi antibiotik.

Hasil kajian menyebutkan bahwa para pasien yang meninggal di rumah sakit dan mengalami komplikasi detak jantung adalah mereka yang mengonsumsi hydroxychloroquine. Tingkat kematian antara kelompok pasien COVID-19 sebagai berikut: hydroxychloroquine 18%; chloroquine 16,4%, pasien-pasien yang tidak mengonsumsi hydroxychloroquine dan chloroquine 9%.

Adapun pasien yang diberikan hydroxychloroquine atau chloroquine yang digabungkan dengan antibiotik, tingkat kematian mereka bahkan lebih tinggi. Para peneliti mewanti-wanti bahwa hydroxychloroquine sebaiknya tidak diberikan di luar uji klinis.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts