Tiongkok Klaim Tak Pernah Tutupi Kasus COVID-19, Tak Terima Disebut Lambat Laporkan Pandemi
Dunia
Pandemi Virus Corona

Menurut Kepala Komisi Kesehatan Tiongkok Ma Xiaowei, Negeri Tirai Bambu telah memberikan informasi terkait pandemi virus corona ini tepat waktu dan setransparan mungkin.

WowKeren - Tiongkok mengklaim sama sekali tak menutupi kasus infeksi virus corona (COVID-19) yang merebak dari Wuhan dan mewabah ke seluruh penjuru dunia. Hal ini disampaikan pejabat resmi senior Tiongkok yang sekaligus membantah tuduhan kalau negara itu sengaja lambat melaporkan soal wabah COVID-19.

Dilansir dari CNN pada Senin (8/6), penolakan atas tuduhan itu tertuang dalam laporan panjang yang menjadi jawaban Tiongkok atas penanganan pandemi COVID-19. Menurut Kepala Komisi Kesehatan Tiongkok Ma Xiaowei, Tiongkok telah memberikan informasi terkait wabah ini tepat waktu dan setransparan mungkin.

"Pemerintah Tiongkok tidak menunda atau menutupi apa pun," katanya. "Sebaliknya, kami telah segera melaporkan data virus dan informasi yang relevan tentang epidemi kepada masyarakat internasional dan membuat kontribusi penting untuk pencegahan dan pengendalian epidemi di sekitar dunia."

Pertemuan ini dilangsungkan sebagai tanggapan atas laporan media yang menyebut pemerintah Tiongkok tidak segera membagikan informasi terkait virus tersebut. Ma menolak dengan tegas tuduhan itu. Sebelumnya, Associated Press melaporkan investigasi laboratorium pemerintah Tiongkok sengaja tak segera merilis peta genetik virus selama lebih dari seminggu pada Januari lalu.


Tiongkok juga dituding telah menunda identifikasi di negara ketiga dan berbagi informasi yang diperlukan untuk mengembangkan tes, obat-obatan dan vaksin. Ma akhirnya menyebut saat itu wabah masih berada dalam tahap awal dan masih banyak hal yang tidak diketahui soal virus baru ini. Sehingga, mereka perlu waktu untuk mengumpulkan bukti dan mencari tahu karakteristik virus penyebab penyakit COVID-19 itu.

Ma lantas merinci hal-hal yang telah dilakukan pemerintah Tiongkok dari waktu ke waktu. Hal itu tertuang dalam laporan 66 halaman dalam bahasa Inggris. Laporan itu memuji keberhasilan Tiongkok dalam mengurangi peningkatan harian dalam kasus-kasus baru menjadi satu digit dalam waktu sekitar dua bulan.

Sebelumnya, Tiongkok mengakui bahwa mereka menghancurkan sampel-sampel virus corona (COVID-19) yang didapat pada masa awal penyebaran wabah. Negeri Tirai Bambu tersebut dilaporkan telah memerintahkan sejumlah laboratorium untuk menghancurkan sampel-sampel itu. Mereka beralasan hal tersebut dilakukan untuk alasan keamanan hayati.

Seorang pejabat di departemen ilmu pengetahuan dan pendidikan Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok (NHC), Liu Dengfeng, mengatakan bahwa sampel virus dihancurkan "demi mencegah risiko terhadap keamanan biologis laboratorium dan mencegah bencana sekunder yang disebabkan oleh patogen yang tidak dikenal."

Dalam keterangannya, Liu berkeras bahwa tindakan itu dilakukan bukan untuk menutupi atau menyembunyikan sampel virus dari dunia, tetapi dilakukan semata-mata untuk alasan keselamatan hayati. "Pernyataan yang dibuat oleh beberapa pejabat AS diambil di luar konteks dan ditujukan untuk membingungkan banyak pihak," kata Liu dalam sebuah jumpa pers di Beijing.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts