Trump Ogah Terima Hasil Pemilu Kalau Kalah, Tegaskan Proses Berjalan Curang
AFP
Dunia

Sang Presiden Amerika Serikat menilai kekalahannya di Pilpres November 2020 mendatang merupakan bentuk kecurangan terkoordinasi. Diketahui Trump akan melawan Joe Biden di Pilpres tersebut.

WowKeren - Presiden Amerika Serikat Donald Trump berkali-kali menyampaikan keinginannya untuk "melanggengkan" kekuasaan di Gedung Putih. Mulai dari membuka opsi bisa menjabat sampai 3 periode, hingga yang terbaru mengaku tak akan percaya dengan hasil Pemilu November 2020 mendatang bila ia dinyatakan kalah.

Trump sendiri menilai kekalahannya di Pemilu November mendatang menunjukkan adanya banyak kecurangan. Dengan kata lain, Pemilu akan dianggap sah oleh Trump apabila ia bisa memenangkannya.

"Kami ingin memastikan bahwa pemilihannya jujur," ujar Trump kepada wartawan, dikutip dari The New York Times, Jumat (25/9). "Dan saya tidak yakin bisa."

Padahal sebelumnya Trump sudah menyatakan bahwa dirinya akan menerima semua hasil Pemilu selama dilaksanakan secara bebas dan adil. Namun Trump belakangan malah kembali aktif melontarkan tuduhan tanpa bukti bahwa Pemilu kali ini kemungkinan besar telah dicemari dengan kecurangan yang meluas.


Secara spesifik, taipan properti yang berubah haluan menjadi politikus itu menyinggung perihal surat suara. "Jadi, kami harus sangat berhati-hati dengan surat suara. Surat suara, Anda tahu, itu benar-benar penipuan besar," ungkap Trump.

Namun tuduhan-tuduhan soal kecurangan Pemilu ini sendiri sudah menuai banyak bantahan. Salah satunya dari Direktur FBI, Christopher A Wray, yang mengaku belum melihat bukti upaya penipuan Pemilu nasional secara terkoordinasi.

Di sisi lain, Partai Republik yang mendukung Trump pun menyampaikan pendapat yang sedikit berlawanan. Partai yang menguasai senat AS itu berkomitmen siap melakukan transfer kekuasaan secara tertib.

Penolakan Trump atas hasil Pemilu apabila ia dinyatakan kalah ini pun langsung memicu cibiran dan reaksi keras lain dari Partai Demokrat. Menurut partai yang mengusung Joe Biden sebagai lawan Trump di Pilpres AS besok itu, sikap sang presiden merupakan ancaman bagi demokrasi di AS.

Tetapi Trump tampaknya tidak peduli dengan berbagai kritikan yang dialamatkan kepadanya, bahkan seolah berusaha "memelintir" pernyataan mantan lawannya di Pilpres AS 2016 silam, Hillary Clinton. Kala itu Clinton menyebut bahwa tak boleh menyerah terhadap keadaan apapun.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts