Kontak Langsung dengan Pasien COVID-19, PM Israel Benjamin Netanyahu Lakukan Isolasi Mandiri
AP
Dunia
Pandemi Virus Corona

Beberapa media melaporkan Netanyahu sempat bertemu dengan seorang anggota Partai Likud, Michael Kleiner, pada pekan lalu yang kemudian dinyatakan positif terinfeksi corona.

WowKeren - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melakukan isolasi mandiri mulai Senin (14/12) waktu setempat setelah menjalin kontak dengan pasien positif virus corona (Covid-19).

Dilansir dari CNN, beberapa media massa Israel melaporkan Netanyahu sempat bertemu dengan seorang anggota Partai Likud, Michael Kleiner, pada pekan lalu yang kemudian dinyatakan positif terinfeksi corona.

Selain bertemu Kleiner, Netanyahu juga dilaporkan sempat menyambut kedatangan pengiriman gelombang pertama vaksin virus corona Pfizer/BioNTech di Bandara Ben Gurion pada pekan lalu.

Sementara itu, pernyataan kantor perdana menteri tidak memberikan rincian tentang potensi Netanyahu tertular corona. Namun, mereka menyatakan Netanyahu langsung diperiksa dan dinyatakan negatif Covid-19.

Meski begitu, perdana menteri Israel tersebut dikatakan akan tetap melakukan isolasi mandiri sampai Jumat mendatang sebagai langkah pencegahan.

Baru-baru ini, Netanyahu mengklaim pandemi virus corona segera berakhir karena vaksin corona yang baru tiba. Ia bahkan menawarkan diri untuk menjadi orang pertama yang disuntik vaksin supaya warga Israel mau divaksinasi.


Israel berencana memulai vaksinasi massal mulai akhir Desember ini. Sejauh ini, Israel baru menerima 8 juta dosis vaksin Pfizer. Warga lansia dan kalangan penduduk paling berisiko lainnya akan diprioritaskan untuk menerima vaksin.

Langkah Israel ini menyusul Inggris yang telah membeli 40 juta dosis vaksin untuk menginokulasi 20 juta warganya. Masing-masing akan warga menerima dua dosis. Uni Eropa telah mengkritik keputusan Inggris menyetujui penggunaan vaksin Covid-19 yang dikembangkan Pfizer dan Biontech. Persetujuan dinilai terlalu cepat diberikan.

Sedangkan European Medicines Agency (EMA), sebuah badan yang bertanggung jawab menyetujui penggunaan vaksin untuk Uni Eropa, mengatakan prosedur persetujuan yang lebih lama sebenarnya lebih tepat. Lebih banyak bukti dan pemeriksaan yang perlu dilakukan daripada sekadar memilih prosedur keadaan darurat seperti Inggris.

Anggota Parlemen Eropa, Peter Liese, turut mengkritik keputusan "tergesa-gesa" Inggris terkait pemberian lampu hijau penggunaan vaksin Pfizer-Biontech. "Saya menganggap keputusan ini bermasalah dan merekomendasikan agar negara anggota Uni Eropa tidak mengulangi proses dengan cara yang sama," ujar tokoh yang merupakan kader partai Kanselir Jerman Angela Merkel.

Liese juga sepenuhnya mendukung prosedur EMA. "Beberapa pekan pemeriksaan menyeluruh oleh EMA lebih baik daripada otorisasi pemasaran darurat yang terburu-buru dari vaksin," ujarnya.

Sementara itu, Israel memiliki sembilan juta penduduk dan telah mencatat 358 ribu kasus infeksi Covid-19, dengan 3003 kematian.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts