Lebih Menular, Studi Inggris Ungkap COVID-19 Delta Plus AY.4.2 Tak Timbulkan Gejala Parah
Dunia
Pandemi Virus Corona

Virus Corona subvarian AY.4.2, atau Delta Plus, begitu diantisipasi karena diklaim lebih cepat menular. Namun studi Inggris menilai varian ini tidak menyebabkan gejala parah pada pasien.

WowKeren - Pemerintah Indonesia mengantisipasi masuknya varian-varian baru virus Corona, termasuk subvarian AY.4.2 yang dikenal juga sebagai Delta Plus. Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan serta pakar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bahkan mengklaim virus tersebut lebih menular ketimbang varian Delta.

Namun, beruntungnya, peneliti Inggris menyatakan bahwa virus Corona varian Delta Plus tidak menimbulkan gejala separah varian induknya. Hal ini terungkap di hasil penelitian oleh Imperial College London React-1 yang dirilis pada Kamis (18/11).

Peneliti mendapati bahwa varian tersebut ditemukan pada 12 persen sampel, namun hanya sepertiga di antara mereka yang menunjukkan gejala "klasik" COVID-19. Temuan ini jauh berbeda dengan Delta AY.4, sebagai subvarian induk, yang juga mendominasi di Inggris dan menyebabkan keparahan gejala pada hampir setengah pasiennya.

Dua pertiga dari pasien dengan infeksi Delta Plus AY.4.2 yang diperiksa tidak menunjukkan gejala apapun. Dengan demikian, peneliti menyimpulkan bahwa varian Delta Plus sedikit lebih menular namun belum terbukti menyebabkan penyakit yang lebih parah atau bisa menghindari vaksin seperti varian Delta.


Kebanyakan dari pasien COVID-19 varian Delta Plus AY.4.2 termasuk pasien tanpa gejala dan hanya memerlukan isolasi mandiri. Namun beberapa orang yang memerlukan perawatan di rumah sakit pun tidak separah pasien COVID-19 akibat varian lain meski mereka lebih mudah menyebarkannya melalui batuk.

"Ini tampaknya lebih mudah menular," ungkap Ahli Epidemiologi Imperial College London React-1, Paul Elliott, kepada wartawan. "(Namun) tampaknya (menimbulkan) gejala yang lebih ringan, yang merupakan hal baik."

Penelitian yang sama juga mengungkap dampak pemberian vaksin COVID-19 dosis ketiga, atau booster, dalam melindungi diri dari infeksi virus Corona yang sudah bermutasi tersebut. Dampaknya, risiko infeksi pada orang dewasa berkurang hingga dua pertiganya dibanding dengan mereka yang hanya menerima dua dosis vaksin COVID-19.

Hasil riset ini tentu semakin mendukung program vaksinasi booster yang tengah digenjot di beberapa negara, terutama kawasan Eropa yang kini menghadapi lonjakan besar kasus COVID-19. Elliott juga meminta masyarakat Inggris lebih waspada lantaran libur sekolah yang akan berakhir dalam waktu dekat.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts