Get Healthy : Bukan Nasi! Coach Diet Online Ini Bocorkan Makanan-Makanan yang Tinggi Kalori
Dokumentasi Oksaviana
Health
Get Healthy

Banyak orang anggap tak makan nasi adalah jalan terbaik turunkan berat badan. Padahal, anggapan itu kurang tepat! Kali ini, Oksaviana Anisa Saraswati akan membongkar makanan-makanan tinggi kalori yang ternyata bukan nasi. Apa saja?

WowKeren - Menjaga pola makan merupakan cara terbaik yang bisa dilakukan untuk menurunkan berat badan. Karena itulah, beberapa orang memilih membatasi secara ekstrem makanan yang dimakan saat diet. Beberapa bahkan rela tak makan nasi dalam kurun waktu tertentu. Hal tersebut juga pernah dialami oleh Oksaviana Anisa Saraswati. Wanita yang akrab disapa Oksa ini mengaku sempat tak mau makan nasi saat tengah menjalankan diet.

Pengalaman diet Oksa bermula pada tahun 2018. Saat itu, buruknya pengaturan pola makan membuat berat badan wanita yang kini berusia 25 tahun ini naik sampai 65 kilogram. Ia pun memutuskan untuk menurunkan berat badan dengan menghindari nasi dan mengonsumsi makanan rebusan hingga berolahraga berlebihan. Meski sempat alami penurunan, namun pola hidup seperti itu rupanya tak bisa diterapkan lama. Alhasil, berat badan Oksa kembali alami kenaikan.



Photo-INFO

TikTok/oksavianaa




Oksa kemudian memutuskan untuk memperdalam ilmu diet dengan bimbingan dari pelatih. Ditambah, ia sering ikuti beragam seminar tentang pola makan. Ia juga mulai melakukan olahraga di tempat gym hingga sukses dapatkan sertifikat personal trainer. Berkat kesungguhan inilah, wanita yang kini aktif sebagai coach diet online ini berhasil membuat berat badannya kembali jadi ideal.

Setelah ilmu diet semakin berkembang, Oksa menyadari bahwa nasi yang dulu sempat dihindari nyatanya bukan penyebab utama berat badan naik. Pasalnya, ada jenis makanan lain yang lebih berpotensi menaikkan berat badan apabila dikonsumsi secara berlebihan.

Kepada WowKeren untuk rubrik Get Healthy, Oksa secara eksklusif membocorkan beberapa makanan yang mengandung kalori tinggi. Apa saja? Ini dia selengkapnya.

(wk/yoan)

1. Aneka Olahan Makanan yang Digoreng


Aneka Olahan Makanan yang Digoreng
TikTok/oksavianaa

Oksa mengungkapkan bahwa aneka makanan yang pengolahannya digoreng mengandung kalori yang tinggi. Apalagi jika ditambah dan dilapisi dengan tepung. Meski demikian, beberapa orang kerap tak sadar dan lebih memilih makan gorengan saja ketimbang nasi.

"Biasanya, yang masih awam belum tahu bagaimana mengatur pola makan karena terbiasa makan yang bergoreng. Padahal, kalau mengolah dengan menggoreng, itu akan jadi tinggi kalori dan gizinya berkurang," beber Oksa. "Jadi pengolahan masaknya itu harus kita perhatikan. Jika kurang tepat, maka akan membuat kalorinya jadi tinggi. Ibarat kita makan ayam 250 gram. Kalau digoreng kalorinya bisa sampai 400 kalori. Tapi kalau dikukus, cuma 300 kalori."

Agar jumlah kalori lebih terkendali, Oksa menyarankan untuk mengolah makanan dengan cara dipanggang, dikukus, dipepes atau direbus sebagai alternatif. Keempat macam pengolahan ini bisa membuat makanan tetap sehat dan enak sehingga diet jadi lebih nyaman.

2. Segala Jenis Masakan Bersantan


Segala Jenis Masakan Bersantan
TikTok/oksavianaa

Makanan lainnya yang mengandung kalori tinggi adalah masakan-masakan yang bersantan. Hal ini disebabkan karena di dalam santan mengandung banyak lemak. Dengan pengolahan yang kurang tepat, lemak dalam santan akan berubah menjadi jahat sehingga memicu beragam penyakit kronis.

"Yang kedua, makanan yang bersantan. Karena santai itu tinggi lemak. Sebenarnya lemak itu kita juga butuh. Tapi lemak yang baik. Nah, sumber lemak yang baik itu kan ada di alpukat, minyak kelapa dan zaitun," terang Oksaviana. "Sedangkan kalau santan sudah diolah, dia akan jadi lemak jahat yang bikin kolesterol."

Karena itulah, penting bagi para pemula untuk memahami konsep dasar ilmu diet secara menyeluruh. Hal ini dilakukan agar mereka bisa lebih selektif dalam mempertimbangan nutrisi makanan yang dapat menunjang diet.

3. Beragam Keripik dan Kerupuk


Beragam Keripik dan Kerupuk
TikTok/oksavianaa

Keripik dan kerupuk memang merupakan makanan yang sudah akrab di kalangan mayoritas masyarakat Indonesia. Tak hanya sebagai pendamping makanan utama, keripik dan kerupuk juga kerap menjadi camilan wajib. Meski memiliki ukuran yang terbilang mini, rupaya keduanya ini menyimpan kandungan kalori yang lebih besar daripada nasi.

"Kita takut makan nasi, padahal nasi satu mangkuk sama keripik dan kerupuk satu mangkuk kalorinya masih lebih tinggi keripik sama kerupuk. Karena pengolahannya digoreng dan minyak yang dipakai sudah digunakan berkali-kali. Jadi, kandungannya cuma karbohidrat sama minyak, rendah gizi," beber Oksa. "Kalau kita makan karbohidrat, otak kita enggak pernah merilis rasa kenyang. Makanya, kalau kita makan keripik satu piring, kurang. Akhirnya, potensi untuk kelebihan makan jadi besar."

Agar tak berlebihan mengonsumsi keripik dan kerupuk, cara terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan tidak membelinya saat belanja bulanan. Cara ini juga sudah diterapkan oleh Oksa. Ia lebih memilih membeli buah-buahan sebagai persediaan dibandingkan keripik dan kerupuk. Dengan trik ini, Oksa pun berhasil mengendalikan jumlah kalori makanan yang dikonsumsinya.

4. Serba-Serbi Kue Kering


Serba-Serbi Kue Kering
TikTok/oksavianaa

Tak hanya keripik dan kerupuk, kue-kue kering rupanya juga mengandung kalori yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan karena bahan utama pembuatan kue adalah tepung. Belum lagi ditambah rasa manis yang berasal dari gula yang melimpah. Kombinasi tepung dan gula inilah yang membuat sepotong kue kering atau sejenisnya memiliki kandungan kalori yang tinggi.

"Kue-kue itu juga penyumbang kalori terbesar. Kita lihat dari bahan, tepung kalorinya lumayan. Terus, tinggi gula. Kalau kita enggak aktif olahraga, maka akan ditimbun menjadi lemak. Apakah artinya kita enggak boleh makan keripik, kerupuk dan kue? Boleh, yang penting kita harus bisa batasi," terang Oksa. "Sebenarnya kita juga bisa mengakali pakai tepung high protein untuk meminimalisir (kalori). Jadi, kita tetap bisa makan kue cuma yang gizinya baik."

Oksa juga menyebutkan bahwa pada dasarnya tak ada makanan khusus yang dilarang saat diet. Hanya saja, seorang pemula wajib memerhatikan porsi makannya. Hal ini dilakukan agar mereka masih bisa mencicipi makanan yang tinggi kalori namun tak membuat berat badan mengalami kenaikan.

5. Berbagai Macam Minuman Manis


Berbagai Macam Minuman Manis
TikTok/oksavianaa

Selain makanan, seorang pemula sebaiknya harus selektif terhadap minuman yang dikonsumsi. Pasalnya, beberapa minuman yang manis ternyata memiliki kandungan kalori sampai 500 kalori di setiap gelas. Jumlah ini jelas lebih besar dari 100 gram nasi yang mengandung sekitar 130 kalori saja.

"Biasanya kita fokusnya hanya di makanan. Padahal, yang enggak kalah jadi penyumbang kalori terbesar itu adalah minuman manis. Misalnya, minuman boba itu satu cup sampai 500 kalori," ungkap Oksa. "Kalau mau tetap minum enak, bisa kita bikin infuse water, jus buah, atau minum air kelapa. Karena minuman manis itu kalorinya tinggi."

Oksa juga mengungkapkan bahwa minum air putih merupakan salah satu alternatif terbaik jika haus. Selain menyehatkan dan melancarkan pencernaan, air putih juga mengandung nol kalori sehingga tak akan membuat berat badan naik.

6. Aneka Bumbu dan Saus Kemasan


Aneka Bumbu dan Saus Kemasan
pexels/Alena Shekhovtcova

Memasak makanan sendiri bisa jadi salah satu alternatif untuk mengontrol jumlah kalori yang masuk setiap hari. Agar masakan bisa tetap enak, penggunaan bumbu menjadi sangat penting. Meski demikian, tetap batasi penggunaan saus-saus instan. Hal ini dilakukan karena saus yang digunakan berlebihan akan menambah kalori yang cukup signifikan pada makanan.

"Dalam pengolahan makanan, saus dan kecap itu ada kalori, makanya harus dibatasi. Biasanya, aku pakainya satu sendok teh saja. Tapi kalau rampah seperti cabai, bawang merah, bawang putih, kunyit dan jahe itu pakai banyak pun enggak apa-apa, kalorinya rendah," jelas Oksa. "Penyedap rasa dan garam pun enggak papa, cuma batasi. Jadi, ketika diet jangan sampai kita mikirnya makannya cuma rebus-rebusan saja."

Agar diet bisa sukses, Oksa mengingatkan agar seorang pemula hendaknya punya alasan dan niat yang kuat. Dengan niat yang kuat, pemula tak akan merasa bahwa diet adalah sebuah beban. Sebab, pada dasarnya diet hanyalah sebuah pengaturan pola makan.

"Kita harus punya niat. Ketika kita mempunyai alasan yang kuat, ada godaan apapun kita enggak bakal nengok karena sudah punya tujuan," lanjut Oksa. "Kedua, kita harus punya ilmu diet yang benar. Di situ kita belajar bahwa diet bukan suatu beban, tapi diet adalah sebuah pengaturan pola makan."

7. Menjaga Pola Makan Saat Diet


Menjaga Pola Makan Saat Diet
Instagram/oksavianaa

Supaya nafsu makan lebih terkendali saat diet, Oksa menyarankan para pemula untuk mengonsumsi lebih banyak protein dan sayur. Selain itu, gunakan trik makan sedikit-sedikit tapi sering dalam satu hari untuk menjaga gula darah tetap stabil. Yang terakhir, jangan lupa untuk membiasakan diri berolahraga secara teratur.

"Pola makan itu harus memerhatikan asupan gizi. Dalam sehari harus mengonsumsi lebih banyak protein dan sayur. Kebutuhan protein sekitar 2 gram per satu kilo berat badan. Jadi kalau berat badan 56 kilogram, 56 dikali 2," papar Oksa. "Nah, karbohidrat ini yang kita harus jaga. Paling enggak, satu kepal tangan saja. Untuk timing, makannya sedikit tapi sering. Misalnya sehari 5 kali. Fungsinya untuk menjaga gula darah biar stabil."

Pada dasarnya, nasi bukanlah satu-satunya makanan yang dapat menaikkan berat padan. Semua jenis makanan apabila dikonsumsi berlebihan secara terus-menerus selama berbulan-bulan juga dapat berpotensi menaikkan berat badan.

"Kalau diet makan nasi pun sebenarnya enggak bikin gemuk. Gemuk itu kalau kita kelebihan kalori secara terus-menerus selama berbulan-bulan," ujar Oksa. "Dan yang bikin kelebihan kalori itu enggak cuma nasi. Makanan apapun kalau kita makan berlebihan itu bisa bikin naik berat badan."



You can share this post!