Get Healthy : Hati-hati! Pecinta Olahraga ini Ungkap Bahaya-Bahaya Melakukan Diet Ekstrem
Dokumentasi Yusuf
Health
Get Healthy

Menjaga pola makan diet sering disalahpahami dengan melakukan hal ekstrem seperti makan terlalu sedikit. Berawal dari pengalaman, Yusuf Saragih mengungkap bahaya-bahaya diet ekstrem yang wajib diketahui!

WowKeren - Sudah menjadi rahasia umum jika salah satu kunci sukses menurunkan berat badan adalah menjaga pola makan. Meski demikian, anggapan ini kadang disalahpahami para pemula diet dengan makan sesedikit mungkin. Padahal, menjalankan diet dengan makan sesedikit mungkin merupakan salah satu hal yang ekstrem. Seperti yang pernah dilakukan oleh Yusuf Saragih. Pecinta olahraga ini mengaku pernah jalani diet ekstrem karena ingin mendapatkan hasil penurunan berat badan yang cepat.

Perjalanan diet Yusuf awalnya bermula ketika ia mulai merasa sulit bergerak di berat badannya yang menyentuh angka 86 kilogram. Ditambah, saat itu ia mendapatkan banyak bully dari orang-orang di sekitarnya. Segala macam upaya pun dilakukan pria yang kini berusia 18 tahun ini demi berhasil menurunkan berat badan. Namun, kurangnya informasi dan ilmu malah membuat Yusuf jadi melakukan diet yang ekstrem.



Photo-INFO

TikTok/yusufstocky031



Saat melakukan diet ekstrem, Yusuf mengaku benar-benar mengurangi porsi makanan yang dikonsumsi. Akibatnya, seringkali ia sampai merasa susah tidur karena tersiksa rasa kelaparan. Selain itu, staminanya perlahan mulai menurun. Sejak saat itulah, Yusuf akhirnya tergerak untuk mengevaluasi pola hidupnya dengan banyak belajar tentang ilmu diet di media sosial secara otodidak.

Berkat kesungguhan inilah, Yusuf akhirnya menyadari bahwa pola hidup yang dijalaninya saat awal diet adalah salah. Ia lantas memperbaiki pola hidupnya secara perlahan mulai dari pola makan, olahraga hingga istirahat. Hasilnya, berat badannya pun masih bisa turun meskipun tidak menjalankan diet ekstrem yang menyiksa. Kini, berat badan Yusuf sudah berhasil sampai di angka 65 kilogram tanpa menerapkan diet ekstrem.

Kepada WowKeren untuk rubrik Get Healthy, Yusuf secara terang-terangan mengaku bahwa tak ingin makin banyak orang merasakan efek samping dari menjalankan diet ekstrem. Karena itulah, ia secara khusus mengungkapkan bahaya-bahaya yang mungkin akan terjadi jika seseorang menjalankan diet ekstrem. Apa saja bahayanya? Ini dia ulasan selengkapnya!

(wk/yoan)

1. Apa Itu Diet Ekstrem?


Apa Itu Diet Ekstrem?
TikTok/yusufstocky031

Sebelum membahas tentang bahaya diet ekstrem, ada baiknya kita memahami BMR atau Basal Metabolic Rate terlebih dahulu. BMR sendiri merupakan jumlah kalori yang dibutuhkan oleh tubuh sebagai bahan bakar untuk menjalankan aktivitas mendasar mulai dari bernafas hingga mencerna makanan. Karena itulah, para pejuang diet wajib makan tidak kurang dari angka BMR agar aktivitas metabolisme tubuh tidak terganggu.

Pada kondisi diet ekstrem, seseorang akan mengurangi asupan makanannya hingga di bawah angka BMR. Hasilnya, penurunan berat badan bisa mencapai angka yang fantastis hanya dalam jangka waktu singkat. Meski demikian, tak banyak orang bisa bertahan lama dengan situasi tersebut karena merasa tersiksa jika harus menekan nafsu makan terlalu lama.

"Diet ekstrem itu pola makan yang lebih sedikit atau jauh dari kebutuhan BMR (Basal Metabolic Rate), sampai buat tubuh kelaparan. Kalau seperti itu kan menyiksa diri sendiri. Padahal, diet itu bukan seperti itu," terang Yusuf. "Kalau dalam artikel yang aku baca, penurunan berat badan normal itu sekitar 4 kilogram per bulan. Kalau penurunan berat badannya jauh dari angka tersebut, kemungkinan dietnya sudah terlalu ekstrem."

2. Merusak Sistem Metabolisme


 Merusak Sistem Metabolisme
TikTok/yusufstocky031

Saat seseorang makan sampai di bawah angka BMR, tubuh akan dipaksa bekerja ekstra dengan bahan bakar yang lebih sedikit. Akibatnya, metabolisme tubuh pun jadi melambat. Makin lama, tubuh akhirnya berhasil beradaptasi dengan jumlah kalori yang sedikit. Jika hal itu terjadi, seseorang akan lebih mudah mengalami kenaikan berat badan. Keadaan inilah yang membuat banyak orang mudah kembali ke berat badan awal sesaat setelah berhenti menjalankan diet.

"Diet ekstrem itu tidak dianjurkan dilakukan untuk jangka panjang karena tidak baik untuk kesehatan dan bisa merusak metabolisme yang ada di tubuh kita," jelas Yusuf. "(Saat metabolisme terganggu), tubuh jadi lebih lambat menyerap apa yang masuk ke tubuh (nutrisi)."

Tak hanya pola makan, metabolisme juga dipengaruhi oleh tingkat aktivitas tubuh. Karena itulah, Yusuf menyarankan para pejuang diet untuk tidak lupa berolahraga. Tak usah berpatok pada durasi yang lama, lakukan olahraga ringan saja di awal. Selain itu, ia juga mengingatkan para pejuang diet agar memberi waktu yang cukup untuk istirahat.

"Selain pola makan, jangan lupa buat olahraga dan istirahat teratur. Durasi olahraga enggak perlu dipatok berapa lama, yang penting ada pergerakan," lanjut Yusuf. "Karena terlalu banyak olahraga juga akan membuat badan mudah capek dan stamina berkurang. Jadi malah makin cepat lapar."

3. Menurunnya Stamina Tubuh


Menurunnya Stamina Tubuh
pexels/Pixabay

Ketika menjalankan diet ekstrem, Yusuf benar-benar membatasi makanan yang dikonsumsinya. Ditambah, ia juga memilih untuk berhenti makan apapun setelah jam menunjukkan pukul 6 sore. Sampai-sampai, ia pernah hanya satu kali makan saja dalam sehari. Akibatnya, setiap waktu ia akan berperang dengan rasa kelaparan yang begitu menyiksa.

"Pertama kali diet itu, paginya aku cuma makan satu centong nasi, siang makan dua pisang doang, terus malamnya nasi juga tapi sedikit. Saat jam 6 sore keatas sudah enggak makan lagi," beber Yusuf. "Pernah juga cuma satu kali makan waktu itu. Karena aku enggak tahu teorinya akhirnya menyiksa diri itu namanya, bukan diet."

Karena sepanjang hari harus berperang dengan rasa kelaparan, Yusuf mengakui bahwa ia jadi sulit untuk tertidur. Akibatnya, staminanya pun perlahan-lahan mulai menurun hingga tak semangat menjalankan aktivitas. Puncaknya, ia jadi mudah lemas saat menjalankan aktivitas-aktivitas yang sebelumnya dianggap ringan.

"Diet ekstrem itu menyiksa. Ya menyiksanya kita seolah enggak boleh makan ini dan itu. Padahal sebenarnya boleh-boleh saja asal tahu cara mengatur kalorinya," sambung Yusuf. "Kalau terlalu sering (makan sedikit), yang pertama pasti tenaga akan berkurang, lemas, pokoknya enggak enak rasanya. Terus, jadi susah tidur juga karena kelaparan."

4. Menurunkan Daya Tahan Tubuh


Menurunkan Daya Tahan Tubuh
pexels/Polina Tankilevitch

Saat asupan makanan terlalu sedikit akibat diet ekstrem, secara otomatis nutrisi yang bisa diserap oleh tubuh jadi terbatas. Padahal, nutrisi ini sangat diperlukan oleh tubuh untuk membangun sistem kekebalan tubuh. Saat tidak mendapatkan nutrisi yang cukup, tubuh akan melemah dan lebih rentan terhadap penyakit.

"Diet ekstrem itu juga bisa menurunkan imunitas atau daya tahan tubuh. Jadi, orang-orang yang menjalani diet ekstrem bisa gampang sakit," tutur Yusuf. "Biasanya dalam waktu satu bulanan (menjalankan diet ekstrem) saja sudah terasa kalau tubuh mulai gampang lemas dan sakit."

Karena itulah, Yusuf mengingatkan kepada para pejuang diet agar tidak lupa selalu mempertimbangkan nutrisi seperti karbohidrat, protein, dan lemak setiap akan makan. Tak lupa juga untuk selalu mencukupi kebutuhan nutrisi tambahan seperti vitamin serta mineral. Dengan memenuhi nutrisi, seseorang akan lebih dekat dengan berat badan impian tanpa khawatir daya tahan tubuhnya menurun.

5. Dapat Menurunkan Massa Otot


Dapat Menurunkan Massa Otot
pexels/Total Shape

Yusuf mengungkapkan bahwa weight loss dan fat loss adalah dua keadaan yang mungkin terjadi pada tubuh saat tengah menjalankan diet. Pada kondisi diet ekstrem, tubuh akan cenderung mengalami weight loss. Artinya, terjadi penurunan yang merata mulai dari kadar air hingga massa lemak dan otot. Hal inilah yang menyebabkan beberapa orang mengalami penurunan berat badan yang cukup signifikan saat awal-awal diet.

Dalam kondisi weight loss, massa otot akan perlahan-lahan terkikis. Padahal, otot sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk menunjang mobilitas serta menjaga stabilitas tubuh. Tak hanya itu saja, tubuh seseorang juga akan menjadi bergelambir apabila kehilangan banyak massa otot.

Agar massa otot tetap terjaga saat diet, diperlukan kondisi tubuh yang fat loss. Pada keadaan ini, diet dilakukan untuk mengurangi massa lemak tanpa disertai pengikisan otot. Langkah ini bisa ditempuh dengan memperbaiki asupan pola makan diet yang disertai dengan olahraga angkat beban.

"Jadi, ada dua jenis diet kalau dibilang mau menurunkan berat badan. Ada yang namanya weight loss dan fat loss. Weight loss ini fokusnya hanya untuk menurunkan berat badan, jadi massa ototnya juga turun," jelas Yusuf. "Sedangkan fat loss, fokus untuk menurunkan massa lemak dan menjaga massa otot supaya tidak terkikis saat diet. Jadi, otot akan terbangun sehingga tubuh tidak akan bergelambir."

6. Picu Gangguan Pola Makan


Picu Gangguan Pola Makan
pexels/Zacharias Korsalka

Pada dasarnya, diet ekstrem masih bisa dilakukan jika seseorang memiliki kondisi obesitas yang cukup parah. Beberapa kondisi kesehatan khusus juga sering kali disarankan untuk menjalankan diet ekstrem namun dengan pengawasan dari dokter. Jadi, apabila kalian tidak mengalami kondisi khusus seperti yang sudah disebutkan, sangat tidak dianjurkan untuk melakukan diet ekstrem.

"Diet ekstrem buat menurunkan berat badan sebenarnya bisa dilakukan dalam keadaan tertentu. Misalnya, kondisi obesitas yang parah atau atlet-atlet yang mau ikutan kontes. Itupun biasanya hanya dilakukan satu minggu saja, enggak dianjurkan dilakukan untuk jangka panjang," papar Yusuf.

Saat seseorang yang tak memiliki kondisi khusus namun memaksa dirinya untuk melakukan diet ekstrem, tak bisa dipungkiri bahwa akan muncul rasa "takut" saat makan. Rasa takut inilah yang makin lama akan memperburuk hubungan seseorang dengan makanan. Akibatnya, gangguan pola makan atau yang lebih dikenal dengan eating disorder pun tak bisa terhindarkan.

7. Memperbaiki Pola Makan Pasca Diet Ekstrem


Memperbaiki Pola Makan Pasca Diet Ekstrem
pexels/Pixabay

Yusuf mengungkapkan bahwa mayoritas orang menjalankan diet ekstrem karena masih belum memahami konsep diet secara menyeluruh. Karena itulah, mempelajari ilmu diet sebelum memulai program menurunkan berat badan adalah hal yang harus dilakukan oleh pemula. Di era digital ini, berbagai macam ilmu bisa dengan mudah diakses di media sosial. Jika masih dirasa kurang, mengikuti online coaching juga bisa menjadi solusinya.

"Sebelum melakukan diet itu harus belajar dulu tentang mengatur pola makan, olahraga dan istirahat yang cukup. Kalau sudah terlanjur melakukan diet ekstrem, ya diatur lagi pelan-pelan nutrisinya. Kalau bisa ikut online coaching, jadi ada yang memandu. Kalau enggak, bisa belajar dari media sosial seperti YouTube atau TikTok," ungkap Yusuf. "Biasanya orang-orang memilih diet ekstrem itu yang belum tahu tentang teori diet, kalori harian, nutrisi, dan lain-lain juga."

Pada dasarnya, penurunan berat badan juga bisa didapatkan tanpa harus makan sesedikit mungkin. Cukup jaga agar makanan yang masuk ke tubuh tidak melebihi kebutuhan kalori harian. Selain itu, jangan lupa untuk selalu pertimbangkan nutrisi seperti karbohidrat, protein dan lemak saat memilih makanan yang akan dikonsumsi.

"Diet ini intinya kita tahu bagaimana menghitung kebutuhan kalori harian yang masuk ke tubuh kita, itu sudah cukup. Untuk menghitung kalori, bisa menggunakan aplikasi di Play Store. Tetap penuhi nutrisi dari protein, lemak, dan karbohidrat untuk sumber energi. Belajar lagi diet yang benar. Jangan terlalu ambisi saat menurunkan berat badan, santai saja supaya tubuh sehat," pungkas Yusuf.



You can share this post!