5 Tipe Imposter Syndrome, Apa Kamu Salah Satunya?
Pexels/Jalil Saeidi
SerbaSerbi

Imposter syndrome adalah salah satu kondisi psikologis ketika seseorang meragukan dirinya sendiri dan merasa tak sehebat orang lain. Sindrom ini dibagi ke dalam lima jenis seperti berikut ini.

WowKeren - Imposter syndrome adalah salah satu penyakit mental yang lekat dengan kehidupan masyarakat. Siapapun bisa mengalaminya baik laki-laki, perempuan, tua maupun muda.

Bahkan menurut artikel yang diterbitkan oleh International Journal of Behavioral Science, sekitar 70 persen orang di dunia pernah mengalami sindrom ini. Itulah mengapa sindrom ini terbilang sangat umum meski istilahnya terdengar asing bagi sejumlah orang.


Imposter syndrome sendiri merupakan kondisi ketika seseorang merasa tidak percaya diri dan kerap memandang rendah dirinya sendiri. Mereka tak hanya meragukan dirinya sendiri, namun juga merasa tidak pantas untuk meraih kesuksesan atau pencapaiannya saat ini.

Mereka yang mengalami sindrom ini juga merasa tidak sehebat orang lain, dan perasaan tersebut diiringi dengan ketakutan bahwa jati dirinya akan terungkap sehingga akan dianggap sebagai penipu oleh orang-orang di sekitarnya. Itulah mengapa imposter syndrome juga disebut sebagai sindrom penipu.

Jika dalam artikel sebelumnya WowKeren telah memaparkan sejumlah penyebab imposter syndrome, kali ini tim redaksi akan menunjukkan lima tipe pengidap sindrom ini. Berikut penjelasan lengkapnya!

(wk/eval)

1. The Perfectionist


The Perfectionist
Pexels/Tima Miroshnichenko

Tipe imposter syndrome yang pertama adalah the perfectionist atau si perfeksionis. Perilaku ini selalu sejalan dengan sindrom penipu karena para perfeksionis selalu menetapkan target yang terlalu tinggi, sehingga mereka jadi sangat khawatir dan meragukan dirinya sendiri saat gagal meraih target tersebut.

Karena kecenderungannya untuk mendapatkan hasil sempurna, si perfeksionis akan menjadi orang yang suka mengontrol. Jika mereka ingin suatu pekerjaan dilakukan dengan benar, mereka merasa harus melakukannya sendiri karena tak mempercayai orang lain.

Pengidap imposter syndrome jenis ini juga jarang merasa puas dengan kesuksesan yang diraihnya sebab mereka yakin bisa mendapat hasil yang lebih baik. Namun tentu saja hal itu tidak sehat karena kita perlu merayakan suatu pencapaian demi menemukan kepuasan, menghindari kelelahan serta meningkatkan kepercayaan diri.

Oleh sebab itu, belajarlah untuk mengakui kesalahan dan memandangnya sebagai bagian alami dari sebuah proses. Ingat, tidak ada hal yang bisa 100 persen sempurna, sehingga kamu tak harus jadi perfeksionis dan menderita sendiri.

2. The Expert


The Expert
Pexels/Andrea Piacquadio

Tipe imposter syndrome berikutnya adalah the expert atau si ahli. Mereka yang masuk dalam kategori ini akan mengukur kompetensinya berdasarkan "apa" dan "seberapa banyak" yang mereka tahu atau mampu mereka lakukan.

Pengidap imposter syndrome jenis ini juga tidak pernah merasa puas sehingga mereka merasa harus mengetahui semua hal. Hal ini disebabkan karena mereka takut diekspos sebagai orang yang tidak berpengalaman atau tak memiliki banyak pengetahuan.

Berusaha keras untuk meningkatkan keahlian akan sangat baik untuk membuat langkah profesional dan tetap kompetitif di dunia kerja. Namun jika melangkah terlalu jauh, kecenderungan untuk mencari informasi lebih lanjut tanpa jeda bisa menjadi bentuk penundaan.

Maka dari itu, mulailah berlatih pembelajaran tepat waktu untuk memperoleh keterampilan saat kamu benar-benar membutuhkannya. Mentoring kolega junior atau menjadi sukarelawan juga bisa sangat membantu. Sebab ketika kamu membagikan apa yang kamu ketahui, hal itu tidak hanya bermanfaat bagi orang lain, tapi juga membantumu menyembuhkan perasaan tidak pernah merasa puas.

3. The Individualist


The Individualist
Pexels/cottonbro

Sesuai dengan namanya, penderita imposter syndrome jenis ini dikenal sebagai orang dengan rasa individual yang tinggi. Mereka lebih suka bekerja sendiri daripada berkelompok karena meminta bantuan orang lain sama dengan menunjukkan kelemahan yang mereka miliki.

The Individualist juga selalu ingin membuktikan dirinya tanpa campur tangan orang lain. Oleh karena itu, mereka sering menolak bantuan orang lain dan terus mengevaluasi setiap keputusan berdasarkan nilai-nilai pribadinya.

Membuktikan diri memang bagus, namun tak ada salahnya untuk meminta bantuan orang lain saat kamu membutuhkannya. Bertanyalah pada rekan kerja jika kamu tidak tahu bagaimana melakukan sesuatu. Atau kamu bisa meminta saran dari atasan untuk menemukan cara penyelesaian masalah.

Ingatlah bahwa kamu bisa membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan sesuatu yang sulit sendirian. Sebaliknya, pekerjaan tersebut akan lebih cepat terselesaikan saat kamu meminta bantuan atau bekerjasama dengan orang lain. Hal ini tentunya jauh lebih efektif.

4. The Natural Genius


The Natural Genius
Pexels/Artem Podrez

The natural genius atau si jenius alami adalah tipe imposter syndrome berikutnya yang perlu kamu ketahui. Sesuai dengan namanya, mereka yang masuk dalam kategori ini mampu menguasai kemampuan baru dengan mudah dan cepat sehingga mereka akan menetapkan standar tinggi seperti para perfeksionis.

Tipe jenius alami juga menilai kesuksesan berdasarkan kemampuan mereka, bukannya usaha. Sehingga jika mereka harus bekerja keras untuk suatu hal, mereka akan berasumsi bahwa mereka buruk dalam hal itu dan menjadi sangat malu karenanya.

Mirisnya, tipe ini juga menilai dirinya berdasarkan "keberhasilan di percobaan pertama." Ketika mereka tidak mendapatkan hasil yang sempurna, mereka akan mulai waspada dan berjuang untuk menguasai keterampilan yang baru.

Daripada merasa tersiksa dan terus menyalahkan diri sendiri ketika tak bisa mencapai standar yang sangat tinggi, tipe ini perlu mengidentifikasi perilakunya secara spesifik. Misalnya, jika kamu ingin memiliki pengaruh yang besar di kantor, akan lebih baik untuk mengasah keterampilan daripada membicarakan "sesuatu yang tidak kamu kuasai."

5. The Superhero


The Superhero
Pexels/Klaus Nielsen

Tipe imposter syndrome terakhir adalah The Superhero. Sesuai dengan namanya, mereka yang masuk dalam kategori ini meyakini bahwa mereka mampu melakukan banyak hal. Hal ini disebabkan karena mereka selalu mendorong dirinya untuk bekerja lebih keras daripada orang lain.

Namun hal itu hanya untuk menyembunyikan kekurangan yang mereka miliki. Meski telah mencapai banyak hal, The Superhero selalu takut ketahuan bahwa mereka melakukan sesuatu tanpa bakat alami yang berasal dari dirinya sendiri.

Tipe ini sebenarnya kecanduan validasi yang datang karena pekerjaan, bukan ketagihan pekerjaan itu sendiri. Karena itulah mereka juga bisa disebut dengan "pecandu kerja palsu."

Oleh sebab itu, mulai latih dirimu untuk menjauhi validasi eksternal. Saat kamu terbiasa dengan validasi internal dan mampu meningkatkan kepercayaan diri, kamu bisa bekerja dengan lebih optimal dan sesuai porsinya.

Nah itu dia kelima tipe imposter syndrome yang perlu kamu ketahui. Dalam artikel berikutnya, WowKeren akan menghadirkan berbagai tips mengatasi sindrom satu ini. Stay tune ya.



You can share this post!

Related Posts